Gunting Tua Keluarga Siak Tjie Boen

Pak Hong, 65 tahun sedang sibuk menjahit, saat saya mendatangi rumahnya, sekaligus gerai menjahit miliknya di Jalan Somba Opu. Nama gerainya, Mei Loen. Gerainya seperti ruko seluas 4x4 meter, sekitar 20 meter sebelum berbelok ke Jalan Ranggong. 


Di dalam gerai itu, hanya ada mesin jahit tua merek Butterfly, lemari dinding pintu kaca, dan sebuah meja besar seukuran perut orang dewasa. Meja besar ini digunakan sebagai tempat setrika. Mei Loen juga adalah rumah tinggal berlantai dua. Mei Loen, sebagaimana bentuk fisiknya, masih seperti 70 tahun lalu.


Yang berubah, sejak peristiwa "pengganyangan Cina" di tahun 1965, papan namanya, tulisan kanji cina, diturunkan dan berganti  menjadi Penjahit Indah Jaya. "Namanya saja yang berubah. Dulu kan tidak boleh menggunakan nama China," kata Pak Hong. 


Pak Hong nama aslinya, Siak Kam Hong. Sama seperti kejadian tahun 1965, ia juga mengubah namanya menjadi Suparto Samsi. "Saya dulu sempat sekolah Tionghoa, tapi hanya sampai kelas dua SMP saat kejadian itu," ucapnya. Pak Hong ulet bekerja. Di tangannya, sebagai penjahit kelas ulung, ia sangat berpengalaman. 


Hasil kerjanya rapi. Mulai dari guntingan dan jahitannya rapi, tanpa cacat sama sekali. Ia belajar turun temurun dari bapaknya, Siak Jie Boen. Di Jalan Somba Opu, Toekang Menjahit Mei Loen sangat terkenal. Ayah Pak Hong bekerja di tempat ini tahun 1930-an. "Waktu itu, bapak masih numpang menjahit sama keluarga asal cina daratan," kata Pak Hong. 


Pak Hong memperlihatkan sebuah foto tua. Ia menghitung penanggalan di tahun cina yang ditulis dengan huruf kanji. "Ini tahun 1940-an, bapak saya menikah di sini," katanya. Jari telunjuknya, menunjuk samping kanan foto, seorang pria bertuksedo dengan rambut belah tengah. "Ini pemilik asli Mei Loen," ucapnya, mengenang. 


Dua puluh lima tahun kemudian, pria bertuksedo itu pindah ke China Daratan. Masa itu adalah masa sulit, sebab terjadi "pengganyangan Cina", akibat meletusnya gerakan 30 September 1965. "Akhirnya bapak saya diwarisi Mei Loen. Seluruh keluarga pemilik usaha jahit asal China daratan itu pindah ke China," kata Pak Hong. Di masa Mei Loen berjaya, pelanggannya adalah pejabat. Mulai dari pejabat Belanda yang bermukim di Makassar, hingga di masa pendudukan Jepang. 


foto: Iqbal
Saya tidak tahu, apa yang istimewa dari penjahit sekelas Pak Hong. Ia menggunting memang sangat rapi. Setelah saya perhatikan, alat gunting yang ia gunakan tidak biasa, sangat tua, dan gagangnya--tempat ibu jari dan tiga jari lainnya tampak berkarat. Saya menerka, karena merek yang terukir sudah tak jelas. Terkaan saya, mereknya adalah Solingen, buatan Jerman dengan ukuran 8-9 sentimeter. 


Tajam, tentu saja, karena rajin dirawat. Saya tidak menyangka, gunting tua itu adalah harta Pak Hong yang sangat berharga. "Gunting ini peninggalan turun temurun dari semenjak berdirinya Mei Loen," katanya. Saya lebih kaget lagi saat ia menunjukkan gunting besi lainnya sebanyak enam buah. Semuanya pegangan atau gagangnya terbuat dari besi. "Saya tidak punya gunting yang pegangannya dari plastik. Semuanya dari besi," katanya. 
Saya mengira, dengan gunting itu, Pak Hong adalah seorang yang ulet. Saban kali ia menggunting selembar kain, ia menggunakan gunting tua pertamanya, merek Solingen. Jika sekadar menggunting benang, Pak Hong menggunakan gunting yang lebih ringan, tapi masih bergagang besi. Saya memegang gunting tua Solingen itu. Gagangnya hampir aus akibat termakan keringat. "Iya ini karena keseringan dipakai, makanya gagangnya yang terbuat dari besi juga mulai menipis," kata Pak Hong. 


Pernah, tahun lalu tepatnya, seorang bule mengunjungi gerai Pak Hong. Ia memandangi gunting tua Pak Hong. Lalu meminta melepasnya. "Buka harga, saya beli gunting tua itu," Ucap Pak Hong meniru bule itu. Tentu saja, Pak Hong menolak. 


"Berapa pun harganya, saya tidak terima. Uang bisa dicari, masalahnya ini gunting ada nilai historisnya."  


Pak Hong, barangkali, terakhir menjadi tukang jahit. Ia tahu, gerainya sendirian sebagai tukang menjahit. Jalan Somba Opu, memang didominasi para pedagang emas asal Kanton. Meski, Pak Hong asal Kanton, ia tak lagi berencana mewarisi profesi menjahit kepada anaknya. Tiga anaknya, sukses, dan mandiri. Dua anaknya, ada yang bekerja sebagai Insinyur bangunan, dan di perusahaan swasta. 


"Ya, saya pasrah saja. Yang penting mereka senang dan bahagia," ucap dia, sembari berharap, keturunannya kelak, ada yang menyimpan benda tua keluarga. Salah satunya gunting tua merek Solingen itu. "Gunting ini keberuntungan barangkali buat keluarga saya."


[Baba Liong]

Dari Poso ke Masamba


Pada Juni 2011, saya melakukan perjalanan mengitari selangkangan kaki pulau Sulawesi, tepatnya Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Rutenya berangkat dari Makassar Sulawesi Selatan, transit di Palu Sulawesi Tengah, lalu Poso juga Sulawesi Tengah, dan kemudian ke Masamba, Sulawesi Selatan. 


Perjalanan dari Makassar menuju Kota Palu saya tempuh dengan pesawat udara, sekitar 1,5 jam. Lapangan udara di Palu cukup kecil. Ketika turun dari pesawat, di lantai dua ada semacam teras yang dipenuhi puluhan orang. Sambil teriak-teriak memanggil nama seseorang, mereka melambai-lambaikan tangan.  


Ruang tunggu bandara Palu cukup kecil. Halaman depannya juga kecil. Seperti serambi rumah saja. Saya melihat beberapa orang meneguk kopi di kedai bandara. Di Palu sulit mendapatkan kopi khas, saya hanya dapat kopi cap Kapal Api. 


Saya dijemput seorang kawan, namanya Ado. Dia adalah kawan saya semasa kecil di Belopa, Sulawesi Selatan. Dia ke Palu mengambil kuliah komputer dan ikut dengan kakaknya yang bekerja di Palu. Dia menjemputku dengan kendaraan roda dua. Ketika kami meninggalkan bandara, hujan gerimis turun mengantar kami. 


Ado bilang, kalau saya agak beruntung karena dapat hujan. Kalau tidak, makanya inilah kota yang sangat panas. Saya tentu mafhum karena memang Palu dilalui garis khatulistiwa. “Bisa sampai buka baju,” kata Ado. “Saking panasnya toh,” lanjutnya. 


Ketika sampai di rumah kakak Ado, kami istirihat dan ngobrol sejenak. Kami meneguk air panas, bukan kopi tapi teh. Ini agak buat saya heran, Ado adalah pecandu kopi semasa di kampung kami. “Memang ada kopi di Palu tapi jelek sekali. Terlalu berampas dan sangat tidak enak. Baunya juga tidak sedap,” katanya. 


Saya nginap semalam di Palu. Karena pagi baru mendapat mobil menuju Poso. Pada malam itu saya mengunjugi beberapa teman, lalu berkeliling kota. Tak ada yang menarik mata di Palu. Hanya ada taman kecil di garis pantai dan kedai yang berjejer. 


DI SEBUAH jalan beberapa mobil ukuran mini bus berjejer. Diantara kendaraan itu saya memiliki tiket penumpang. Saya duduk dikrusi paling belakang. Sekitar pukul 09.00 saya meninggalkan Palu menuju Poso. 


Wuih, jalan dari Palu ke Poso cukup menarik. Pemandangan sepanjang jalan cukup menyejukkan. Udara yang masuk melalui jendela mobil sangat sejuk. Sisi jalan ada jurang dan tebing. Jalannya meliuk-liuk seperti ular. 


Saya tiba di Poso pada sore hari. Dijemput seorang koresponden MNC. Pertama melihat Poso saya cukup tertegun. Kota ini cukup cantik dan berpenduduk ramah. Jalan-jalan kotanya kecil. Saya mengunjungi Poso dalam tugas peliputan dari Majalah GATRA. Menemui beberapa orang dan bercerita dengannya. 


Poso menjadi buah bibir lagi karena tim Densus 88 turun ke sana untuk mencari pelaku penembakan anggota kepolisian di Palu. Para pelaku berasal dari Poso. Tapi kemudian, setelah pelaku itu tertangkap, anggota Densusu 88 masih terus memburu kawanan para pelaku. Mereka menganggap bila pembunuhan itu melibatkan jaringan teroris. Dan mereka menduga Poso adalah markas salah satu jaringan keras teroris untuk melakukan pelatihan. 


Tapi, ternyata pandangan itu tidak dibenarkan oleh beberapa warga. Beberapa orang yang saya temui mengatakan, bila Poso selalu diobok-obok. “Kami sebenarnya tak peduli dengan pelaku penembakan itu. tangkap saja. Tapi sudahlah jangan ganggu kami lagi, kami mau hidup tenang,” kata salah seorang warga. 


Tahun, 1998 di kota ini memang terjadi konflik saudara atas nama agama. Islam dan Nasrani bertengkar dan saling bantai. Tapi itu dulu dan masa lalu. Mereka ingin meninggalkan semuanya. Tak ada gunanya. 


Saya heran saat bertemu Rafiq Syamsudin, nada ceritanya cukup cepat dan keras. “Di sini tak ada lagi konflik itu. Yang ada semua orang ingin hidup dan mencari nafkah sendiri,” katanya. 


Rafiq pada tahun 1998 adalah seorang koordinator perjuangan dari baris Islam. Mengomnadoi beberapa pasukan dan mahir merakit bom. Tapi sekarang dia sudah tak melakukannya, dia mengelola sebuah radio. “Bayangkan, semua orang berlomba-lomba buat proposal pemulihan atas nama konflik. Semua atas nama konflik. Saya khawatir isu teroris ini akan dijadikan lahan pencarian uang lagi,” lanjutnya. 


Poso menurutku adalah kota yang tenang. Pada malam hari saya berkunjung ke beberapa tempat, meski agak sunyi tapi saya merasakan seidkitpun ketegangan. Di pinggir pantai Poso saya dan beberapa teman duduk di salah satu kedai, menikmati angin malam, meneguk kopi, dan mendengarkan kawan yang lain bernyanyi. Kedai di sepanjang pesisir itu, sekaligus tempat karaoke yang murah meriah. 


Orang-orang bebas bercerita. Saya bertemu dengan seorang Nasrani. Dia datang dengan pacarnya yang muslim. Di kedai lain, saya juga melihat pembauran. “Bisa dilihat kan tak ada yang salah. Semua aman-aman saja. Hanya orang lain yang membuat persepsi tentang Poso dan buat semua orang ketakutan datang ke sini,” kata seorang kawan dari SCTV.


Saya tinggal di Poso selama empat hari. Saya bertemu beberapa karaktek dan memperhatikan suasana kota yang nyaman. Poso, memang selalu bergejolak tapi tak tahu siapa yang membuat. 


Saya meninggalkan Poso pada pagi hari bertolak ke kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan. Pagi-pagi bus besar yang membawa saya melintasi jalan yang kecil dan meliuk. Bila bertemu kendaraan dari depan maka salah satu kendaraan harus memperlambat kecepatannya. 


Selama perjalanan bus yang saya tumpangi dua kali beristirahat dan menyiram bannya. Saat air menyentuh ban kendaraan, asap yang keluar mengepul. Menurut kernetnya, itu karena panasnya putaran roda.   


Perjalanan menuju Masamba ditempuh sekitar 12 jam. Dari Poso sekitar pukul 08.00 dan tiba di Masamba sekitar pukul 20.00. Inilah waktu yang sangat melelahkan. Selama perjalanan saya tak mampu memejamkan mata. 


Saya tegang melihat jalan yang meliuk dan sangat kecil. Memperhatikan jurang di sisi kanan kendaraan seperti akan buat jantung berhenti berdegup. Sebelum melewati kawasan perbatasan antara Sulawesi Tengah dan Selatan ada tanah yang longsor. Sisi jalan runtuh. Kendaraan yang melintas dijejer dan melaluinya dengan hati-hati. Satu-satu. Di tempat itu kendaraan tertahan cukup lama. 


OH YA, saya ingin bercerita tentang pikiran-pikiran saya di atas bus. Tentang lamunan dan ketegangan. Saya tak tahu bagaimana cara membunuh waktu di ruangan yang hanya bisa untuk duduk. Yang paling banter ada menaikkan kedua kaki ke kursi. Lalu berusaha memejamkan mata dan menegakkan kepala. Atau memiringkannya ke kiri atau ke kanan. 


Gaya lainnya, ya menempelkan kepala di belakang kursi bagian depan. Mau bediri tentu tak bisa, meluruskan kaki juga tak bisa. Saya iseng-iseng memerhatikan ruas jalan. Gunung-gunung dan lembah. Lalu memilih-lilih salah satu lokasi dan membangun rumah. 


Saya mulai melihat diri saya di lokasi itu. Tapi kemudian sirna begitu saja, karena kendaraan sudah melaju dan meninggalkan ruangan imajinasi saya. Lalu mulai lah bacaan satu persatu muncul di kepala. Ada cerita petualangan Karl May, ada cerita pembenuhan In Cold Blood yang ditulis Truman Capote atau bahkan cerita silat Ko Ping Ho. Beh, berkeliaran begitu saja. 


Saya membayangkan semua setting, alur, dan kejadian bacaan-bacaan itu. Memperhatikan rumah-rumah di sisi jalan dan membuatnya sendiri seakan nyata. Atau bahkan, mengandaikan diri seorang penembak jitu. 


Pada tahap menjadi penembak jitu itulah yang paling lama. Saya seakan memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Menembak dari balik kaca jendela mobil. Mengarahkan pada siapun yang lewat dan mebayangkan orang-orang itu menghempas. 


Lalu tiba-tiba saya kecapaian sendiri. Itu tulang ekor sudah mulai keram. Ruang imajinasi di kepala sirna saja, adanya bagaimana mempertahankan keram di pantat. Inilah hal yang paling sulit saat melakukan perjalanan, bukan dengan kendaraan pribadi. 


Dan mulailah nampak pohon-pohon sawit disepanjang jalan. Mangkutana, Kecamatan Luwu Timur sudah dijejak, artinya dua jam lagi tiba di Masamba. Menghibur diri dengan tenang dan memikirkan kasur empuk. 


Sekarang bandar udara Andi Djemma sudah di sisi kiri kendaraan. Saya berhenti tepat di ujung pagar bandara itu. Ada sebuah wisma. Mengambil kamar di lantai dua. Memperhatikan kamar mandi, handuk yang kusut dan bau. Tak ada sabun mandi dan pasta gigi. Kasur sudah di depan mata, empuk, tapi harus melupakan sejenak. Perut sudah keroncongan, tak ada makanan yang tersedia di wisma itu. “Makanan ada Pak tapi harus keluar, ada di dekat-dekat sini kalau mau beli makanan,” kata petugas reseptionis wisma seraya menunjuk. 


Ya sudah, kuputuskan untuk berjalan keluar. Sekitar 50 meter ada penjual makanan. Memesan ikan goreng, cukup sudah mengisi perut, lalu beli sabun mandi. Tak pikir lama, di wisma saya menghempaskan badan setelah membersihkan badan seperlunya. Mengangkat selimut dan pulas. Seminggu sudah perjalanan itu saya lalui bertemu orang dan melihat sekeliling. 


(Eko Rusdianto – ingin membaca liputan lengkap Poso, silahkan mengunjungi www.ekorusdianto.blogspot.com)

1905, The Tjeng Tjoan dan Gerobak Kayunya

Barangkali kita pernah melihat gerobak penjual kacang tanah yang dijaja di pinggir jalan. Gerobak kacang ini biasanya muncul di orkes kawinan, layar tancap, hingga konser artis ibukota di lapangan terbuka. Mereka bersepeda ala pa’gandeng. Biasanya gerobak ini khas mengandalkan api kecil dari pelita berbahan bakar minyak tanah sebagai alat penerang. Nah, hal serupa awalnya terjadi pada Kacang Ayam, salah satu merek penganan oleh-oleh khas Makassar paling terkenal.


Semuanya bermula di Jalan Sulawesi. Pembuatan kacang ini pertamakali dilakukan tahun 1905 oleh The Tjeng Tjoan. Awalnya, The Tjeng Tjoan hanya memproduksi kacang biasa dicampur garam yang ditumbuk halus. Ia menjualnya keliling dengan gerobak kayu.
Dari jalan-jalan kota Makassar hingga di sudut-sudut pasar malam, The Tjeng Tjoan akhirnya menjajakan kacang dengan variasi rasa. Paling sering, Tjeng menjualnya di sekitar Lapangan Karebosi.
Dua puluh tahun kemudian, setelah kemasan kertas muai bermunculan di Makassar, The Tjeng Tjoan membuat inovasi dengan mengemas produksi kacang gorengnya ke dalam kemasan kertas berwarna coklat.
Pada kemasan itu masih tertera ejaan lama, 'Fabriek Katjang di Makassar The Tjeng Tjoan Merek Soei Hien Hoo, Bekroond Zilverend Medaille Pasar Malam, Templestraat 169'. Templestraat kalau diindonesiakan Jalan Klenteng nomor 169, dan kini bernama Jalan Sulawesi.
Di produksi pertama kali di Templestraat atau dulunya Jalan Klenteng, dan sekarang dikenal sebagai Jalan Sulawesi. Kini, generasi kedua keturunan The Tjeng Tjoan, Arifin Theos, meneruskan usaha ini.
Sejak tahun 1980, ketika produksi massal mulai diperkenalkan. Kacang buatan The Tjeng Tjoan merambah keluar daerah. Tjeng,  memanfaatkan kemasan berlogo ayam sebagai branding kacang Makassar.
Di masa itu juga, Kacang Disco mulai diperkenalkan. Kacang disco mengambil nama era delapanpuluhan yang trend dengan tari-tarian disco.
Di bawah bendera PT Cahaya Anugrah Sentosa, kacang ayam berkembang dengan omset Rp 500 juta perbulannya. Produksinya Kacang Disco ini di kawasan pergudangan Makassar. “Rata-rata produksi 6-7 ton per bulannya," kata Arief Taniman, manajer PT Cahaya Anugrah Sentosa.
Saat ini produksi Kacang Ayam memiliki lima jenis rasa, yaitu kacang asin, kacang telur, kacang manis, kacang rempah, dan kacang pedas. Produksi kacang ini terbatas hanya di pulau Sulawesi saja. "Kami menjaga mutu dan kualitas. Soalnya kalau mau mengirim ke Pulau Jawa, ekspedisi pelayaran yang memakan waktu berhari-hari bisa merusak kualitas kacang," kata Arifin.
Dari berbagai rasa, menurut Arifin yang paling banyak dicari pelanggan adalah jenis kacang rempah dan kacang asin. "Saya kira ini hanya persoalan selera. Lagian kualitas kacang di Makassar memang cukup dikenal di luar Makassar," katanya. Sampai sekarang di Jalan Sulawesi nomor 169, toko kacang ini masih ada. Untuk urusan kacang kemasan, Katjang Ayam memang jagonya.
Apalagi kalau menyusuri pasar oleh-oleh di Jalan Somba Opu dan Jalan Sulawesi, merek Kacang Ayam pasti bisa dibaca melalui reklame raksasa di sekitar jalan itu. Meski sekarang ada puluhan merek kacang kemasan, tapi merek Kacang Ayam masih tetap jagonya sampai sekarang.
"Rata-rata 20 bungkus per hari kacang dari berbagai merek dibeli pelanggan. Setengah di antaranya adalah kacang ayam," kata perempuan muda, pengelola Toko Ujung di Jalan Somba Opu.


(Liu Deng Baba, seorang peneliti Tanahindie)

Malaria dan Kelapa Sawit, Dua Demam di Topoyo




Fasilitas sebuah warung dalam perjalanan
menuju Topoyo (AJR)
TOPOYO, desa yang terletak 180-an kilometer jalan poros Mamuju-Pasangkayu, hanyalah hutan lebat di awal 1980-an. Pelan-pelan desa ini terbuka seiring berjalannya program transmigrasi. Belakangan terbit harapan warga. Kabar yang santer mengemuka menyebutkan bahwa desa ini akan menjadi salah satu daerah penting dan utama cikal kabupaten Mamuju Tengah, yang konon sudah mendapat restu dari Pemerintah Pusat sampai Pemerintah Sulawesi Barat.
Pak Lamma, 67 tahun, tak pernah menyangka ini.
“Saya waktu datang ke sini tahun 1986, (Topoyo) baru lahan yang baru ditebang. Saya sempat bilang, ‘saya orang yang pertama tinggal di sini’,” seru Pak Lamma. Maksud Lamma ‘di sini’ adalah tanah seluas dua hektar yang kini ia tinggali bersama istri dan Dewi, anak perempuan tunggalnya yang tahun lalu ia nikahkan.
Ia ingat betul, tiba pertama kali di lahan jatahnya, tunggul-tunggul kayu berdiameter 100 senti kering bersebaran. “Butuh tiga tahun untuk membakar tunggul-tunggul itu,” cerita Lamma.
Lahan dua hektar tersebut merupakan tanah pembagian setiap orang yang ikut program transmigrasi. Lamma merupakan satu dari 74 KK (kepala keluarga) yang bergabung dalam bertransmigrasi gelombang I di Topoyo. Gelombang II (40 KK dari Kabupaten Wajo) dan Gelombang III (40 KK dari Kabupaten Enrekang) menyusul tak lama berselang.
“Pokoknya, 1986-1987 itu Topoyo terisi kurang lebih 250 KK,” terang Lamma.
Program transmigrasi, berdasarkan tuturan Lamma, selalu menyertakan penduduk lokal. Penduduk lokal di sini adalah penduduk dalam lingkup provinsi. Ketika itu, Mamuju masih bagian dari Sulawesi Selatan.
Topoyo adalah daerah yang terletak sekisar 180 kilometer di utara Mamuju, ibukota Sulawesi Barat. Desa itu terletak di pegunungan sebagaimana awamnya daerah di Sulbar. Perkebunan berkembang di sana, meliputi kelapa sawit dan jeruk manis, yang ditanam oleh warga transmigran berlatar beragam etnik.
Lamma mengungkapkan, transmigrasi Topoyo dan transmigrasi Wai Pute, desa tetangga barat Topoyo berbeda. Wai Pute merupakan transmigrasi PIR (perkebunan inti rakyat) untuk karet. Karena karet tidak berhasil warga mengganti menanam kelapa sawit. Seingatnya, tidak kurang 250 KK dari Jawa dan Bali menempati Wai Pute ketika itu. Perkembangan terakhir ini memadatkan daerah sekitar terutama Wai Lotong dan Desa Tumbu. Wai Lotong sendiri awalnya juga banyak ditempati oleh Jawa. Namun Wai Lotong berkembang sendiri. Belakangan, pemiliknya lalu menjualnya kepada orang lain dari Bugis dan etnik lain.
Malaria
Laiknya daerah hutan rambahan, malaria merupakan penyakit endemis di daerah ini. Untuk menangkal, ia minum obat telan dua pagi dua siang dan dua sore. Itu, kata dia, sudah bisa tahan setahun. Selain malaria, hal lain tentang Mamuju yang sampai di Makassar masa akhir 1960-an adalah Mamuju adalah tempat banyak orang yang ‘meracun’ orang baru.
“Padahal, banyak yang muntah darah karena gizi rendah. Makan sagu saja. Sedang panas badan, bertamu di rumah teman, muntah darah, dikira diracun. Padahal itu TB. Saya sejak dulu tidak percaya ada orang yang tega berani meracun orang. Waktu saya ke sini, pertanyaan saya pertama adalah ‘adakah masjid?’ Oh ada. ‘Adakah orang sembahyang?’ Oh ada. Kalau orang masih sembahyang, berarti mereka percaya pada Tuhan. Mereka tidak akan jahat sama orang lain,” begitu Lamma menjelaskan keyakinannya.
Malaria tak luput juga menimpa keluarga Lamma. Butuh perjuangan berat, mengingat di zaman itu, fasilitas pengobatan tidak semendingan sekarang. Ia menuturkan, ketika Dewi sakit malaria, ia berjuang keras untuk mencapai puskesmas yang adanya di Babana, 20 kilometeran dari Topoyo. Mencapai pelayanan kesehatan harus menyeberangi dua sungai.
“Kalau lagi beruntung, kita bisa menumpang di truk yang sedang membawa kayu. Tapi tetap saja jalanan sangat tidak memadai. Berlumpur,” katanya. Peristiwa itu terjadi ketika anak perempuannya, Dewi berumur 4 tahun. Dewi, yang kini mengandung enam bulan, lahir dan besar di Topoyo pada tahun 1988.
Bagi penduduk setempat, karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit ini, setiap demam dan gigilan warga selalu dianggap sebagai dudungeng saja (cacar/sarampa’) atau kambuloang (demam keserempet mahluk halus).
Lamma sendiri tidak banyak mempraktikkan pengobatan tradisional. Mengobati sakit malarianya ia mengonsumsi obat-obatan medis. Dia mengakui, minum air perasan pepaya adalah obat yang manjur. Namun itu jarang ia pakai. Ia lebih yakin keampuhan obat medis.

LAMMA, itu saja namanya; nama tipikal Bugis. Ia lahir tahun 1944 di Baringeng, Soppeng Sulawesi Selatan. Ayah ibu Lamma menetap di Parepare. Namun khawatir keselamatan karena pendudukan Jepang, ibunda Lamma mengungsi ke Soppeng. Umur sekisar sebulan ibunya memboyong Lamma ke Parepare.
Besar dan tumbuh di Parepare, pemuda Lamma kemudian berangkat ke Makassar untuk berkuliah. Ketika itu ia masuk pendidikan sarjana muda di jurusan Komunikasi Massa di Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI), Jalan Gunung Bawakaraeng, Makassar. Perjalanan nasiblah yang membawa Lamma ke Topoyo. Lelaki berkumis dan berjanggut putih ini kini dianggap salah seorang tetua Desa Topoyo.
Memasuki dekade 1970-an, sampai kabar di telinga pemuda Lamma bahwa ayahnya yang bekerja di Mamuju sana jatuh sakit. Jalan dari Makassar ke Mamuju belumlah tembus. Semuanya ditempuh lewat laut. Setidaknya 18 jam naik kapal. Lamma, saat itu bekerja sebagai tata usaha di UVRI, meninggalkan Makassar menuju Mamuju.
“Sampai di sini ternyata Beliau tidak apa-apa. Rupanya Beliau hanya rindu sama saya,” kenang Lamma, tertawa.
Menyimak suara dan cara tertawa begitu juga tampakannya, saya jadi ingat Karni Ilyas, wartawan senior yang bertugas di TVOne. Hanya beda rambut, kumis dan cambang tipis yang ia pelihara sudah memutih.
Maksud menjenguk ayah di Mamuju, rupanya mengubah jalan hidup Lamma. Di sana ia mendapat tawaran bekerja dari majikan sang ayah, Oe I Ming. Pengusaha berdarah Tionghoa itu memintanya jadi kepala perwakilan sebuah kongsi, CV Hubungan Baru. Usaha CV ini dirintis di Lombang-Lombang. Perusahaan ini membeli kopra. Ia bekerja di situ sampai 1973-1978. Perusahaan itu kemudian bubar karena sang pemilik meninggal. Ia dikirim ke Kabuluang, dekat Belang-Belang. Di sana, oleh Oe Tek Piaw, anak mantan majikannya, ia disuruh beli kopra dan rotan. Satu tahun lebih di sana, anak pemilik perusahaan kongsi membangun pabrik minyak. Setahun saja dia di sana. Lamma berhenti dengan alasan pekerjaan terlalu berat.
Usai bekerja sebagai perwakilan, pada 1981 ia bekerja di PTP XXVII yang menanam karet di Tangkau. Tapi karena tanaman penghasil getah putih itu tidak bertumbuh baik, tanaman perkebunan diganti jadi kelapa sawit. Seiring itu, PTP diganti oleh PT Astra Surya Lestari. Selesai bertugas di PTP XXVII, ia bekerja di bagian logistik di PT Bina Trijaya Perkasa, perusahaan yang dikontrak PTP XXVII untuk pembersihan lahan (land clearing) tahun 1985. Setahun kemudian, kedekatannya dengan seorang petinggi Dinas Transmigrasi, ia pun ikut transmigrasi dan menjadi warga Topoyo.
Kini, Lamma setiap hari bertugas sebagai sekretaris desa Topoyo. Di kantor yang terletak di jalan poros Topoyo-Desa Tumbu itu ia bersama Kades, yang juga kemenakannya, menjalankan tugas mengurus administrasi Topoyo dan segala tetek bengeknya.[]

Rambut Gondrong dan Lamaran Pernikahan


BAPAK MEMINTA saya jadi juru bicara mammanu’-manu untuk Asdi—kakak ipar saya, April lalu.Mammanu’-manu’ adalah penjajakan calon mempelai laki-laki menjelang pelamaran resmi kepada keluarga mempelai perempuan dalam pernikahan masyarakat Bugis.

Sebenarnya, reputasi saya sebagai jubir pelamaran pernah teruji 2008 lalu. Saya melamarkan kawan saya seorang Bugis yang ingin meminang pacarnya yang bersuku Toraja. Saya buta proses pernikahan Toraja. Belum pernah sekali pun saya mendengar bagaimana tahapannya. Jadi jubir pun ketika itu lebih karena ‘todongan’. Saya tidak bisa berkelit lantaran permintaan itu meluncur ketika mobil sudah bergerak membawa kami menuju Toraja, dua ratusan kilometer utara Makassar. Saya salah kira. Seorang, yang paling tua dari rombongan kami, menolak jadi jubir. Dia hanya datang sebagai ‘paman’ calon mempelai laki-laki. Untung lamaran itu berjalan lancar.

Saya sudah lama penasaran, bagaimana sebenarnya rasanya menjadi jubir untuk proses 'seseram' perkawinan Bugis? Pasti membutuhkan juru bicara yang mumpuni. Kalah gertak sedikit, pasti berpengaruh pada biaya yang harus dikeluarkan mempelai laki-laki.

Selain itu, tugas ini tugas ‘istimewa’ bagi saya. Ini karena rambut saya yang panjang. Bagaimana reaksi orang-orang yang kelak saya hadapi dalam proses ini? Itu juga membuat saya terbata-bata menerima penunjukan ini. Namun pikiran itu saya buang jauh. Mungkin Bapak tidak punya pilihan. Saya satu-satunya laki-laki yang tersedia ketika itu. Kakak ipar saya yang lain sedang di Jakarta. Dia kerja di kantor pemerintah. Tidak mungkin memanggilnya pulang. Tapi ingatan saya bagaimana gelagat Bapak dan Ibu selama ini menimpali pikiran ini. Kedua mertua saya itu tidak pernah melancarkan protes soal gaya atau rambut. Mereka jauh lebih cepat bereaksi kalau cucu mereka, Isobel, menangis atau sakit.

Rambut saya di pertengahan April itu memanjang sampai punggung. Ujungnya keriting—seperti Isobel, putri saya yang berumur 23 bulan, meski rambutnya, tentu saja, jauh lebih cantik. Saya tiap hari keramas. Kalau tidak begitu, pasti rambut saya lepek dan kulit kepala saya gatal. Kini rambut itu tinggal seleher. Mirip rambut Nike Ardilla, ujar seorang kawan berkelakar.

Nike Ardilla artis besar di zaman saya tumbuh. Saya adalah pria kelahiran pertengahan 1970-an. Mulai mengenyam bangku sekolah dasar di awal 1980-an. Saya mengalami teror potong rambut sejak kelas I SD hingga menjelang lulus SMA. Perintah potong rambut datang dari guru wali kelas—sesekali dari kepala sekolah. Pokoknya, kata guru, tak sehelai pun boleh melampaui daun telinga.

Selama enam tahun di SD, rambut saya seperti sabut kepala; nyaris plontos, hanya meninggalkan sedikit tepat di kepala bagian tengah. Orang sekampung menyebut cukkuru’ resimeng. Maksudnya, mungkin, ‘cukur resimen (tentara)’.
Lanjut SMP model nyaris sama kendati sedikit lebih panjang. Nah, ketika SMA-lah rambut saya mulai tumbuh lebih panjang lagi. Sudah tak ada tekanan hebat soal rambut, meski tetap ada peringatan agar rambut jangan menutup leher.
Saya tidak mengerti mengapa rambut harus pendek itu. Dugaan saya ketika itu paling jauh sebatas: karena kalangan militer yang sedang mengelola Indonesia, jadi mereka mau rambut kita sama dengan rambut mereka. Dugaan yang polos, bukan?

Jawaban atas pertanyaan itu saya dapatkan rinci ketika membaca karya Aria Wiratma YudisthiraDilarang Gondrong!: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an terbitan Marjin Kiri, April 2010. Aria kemudian menukil tajuk ‘Gondrong Tidak Gondrong” di Harian Angkatan Bersenjataedisi 14 September 1973:

“Adanya perbedaan-perbedaan pendapat dalam soal rambut gondrong ini menurut hemat kami, lebih banyak bersumber pada perbedaan selera atau perasaan estetika seseorang dari perbedaan-perbedaan pendapat yang kadang-kadang dibubuhi dengan macam-macam dalil yang sok ilmiah atau istilah-istilah yang “grand”. Tetapi setelah kemudian kita telaah lagi, apa yang kita temukan bukannya kadar pendapat yang banyak, tapi pernyataan perasaan seseorang.
Sebelum kita debat panjang tentang rambut gondrong ini, kita tentunya harus lebih dahulu dapat menetapkan sampai berapa panjang rambut yang dikatakan gondrong itu. Apakah ia setelah melewati telinga menutup leher? Apakah beda rambut panjang dan rambut gondrong?
Disamping itu lagi terdapat pula beberapa istilah yang kabur seperti: gondrong sedang dan gondrong yang berlebihan. Juga gondrong rapi dan gondrong kotor. Semuanya ini membuat percakapan kita menjadi simpang siur tidak keruan.” 

Kekhawatiran saya tentang rambut yang akan saya serta dalam mammanu'-manu' abaikan. Kami sekeluarga tenggelam dalam persiapan pelamaran yang tinggal tiga hari lagi.

TIGA HARI kemudian, Sabtu malam, kami sudah siap. Dua mobil bersiaga berangkat. Piyo, istri saya, menanyakan apakah Isobel ikut masuk ke rombongan.

“Bawa saja. Biar dia mengacau di sana, membuyarkan konsentrasi orang,” kata saya, seraya menggulung kemeja flanel. Kami tertawa. Kami bagai prajurit belia atau petualang muda, yang tidak tahu ladang tempur dan medan perjalanan harus membawa bekal yang cukup.

Rumah calon mempelai perempuan sekisar tiga kilometer dari rumah saya. Kami berencana berangkat berenam. Semua keluarga inti: Bapak, Ibu, Piyo, Isobel, dan Nunung (adik ipar saya). Nunung menyetir untuk saya sekeluarga. Sedang Asdi menyupir untuk Bapak dan Ibu. Sebelum tiba, mobil berbelok dan singgah di sebuah toko kue. Nunung dan Piyo turun membeli kue lalu menaruhnya di atas nampan yang disiapkan dari rumah. Asdi hanya sampai di lorong masuk rumah pacarnya, menunjukkan jalan lalu pulang.

Tiba di sana, kami mengucapkan salam. Tidak bersamaan tapi kami mengeraskan suara. Penyambut kami berturut-turut: nenek mempelai perempuan, bapak, paman berkumis, paman (teman sekolah kakak ipar saya) dan istri, ibu, dan bibi. Masing-masing mereka memperkenalkan diri juga. Mereka mempersilakan duduk.

Diam-diam, saya sebenarnya menunggu reaksi tentang rambut saya dari keluarga mempelai perempuan. Tapi mereka biasa-biasa saja.

Kami lalu duduk di ruang tamu. Tiga perempuan cantik mendampingi saya: Piyo dan Isobel di kiri dan Nunung di kanan. Bapak Ibu di pinggir kanan ruang tamu. Di depan saya bapak mempelai perempuan dan paman berkumis. Di samping kiri Piyo ada nenek. Di ruang keluarga ibu, bibi dan paman pelaut, dan bibi tua. Dalam pandangan saya, ibu dan bibi tua tidak tampak. Mereka terhalang dinding. Hanya deretan barongko, bingka’, dan kue tradisional lainnya di atas mengantarai saya dengan si bapak dan paman berkumis.

Basa-basi tentang macetnya malam Minggu meluncur dari sang bapak. Kami menimpali bergantian. Tapi setelahnya, kami terdiam beberapa jenak. Dan pembicaraan inti pun kami mulai.

“Saya ke sini membawa keluarga saya untuk sebuah niat yang tulus dan, insyaAllah, bla bla bla bla,” kata saya.

Usai beberapa patah kalimat sambutan dari bapak mempelai perempuan, kami segera membicarakan hal-hal terpenting dan harus ada dalam proses pernikahan kedua mempelai nanti.

Yang pertama, waktu. Saya menyerahkan lebih dulu kesempatan bicara kepada pihak mempelai perempuan, kapan tanggal tepat menggelar nikahan.

“Pada dasarnya semua hari itu baik. Hanya saja, tanggal pernikahan di Makassar sangat tergantung kesediaan tempat. Tapi sebaiknya akhir Mei atau awal sampai pertengahan Juni,” pinta bapak.

Soal kedua berkaitan proses akad nikah. Rencananya: akad nikah berlangsung pukul 09.00 atau 10.00 di rumah mempelai perempuan. Dua jam setelah akad berlangsung acara mapparola (Bgs. berkunjung ke rumah mempelai laki-laki). “Sejam atau dua jam setelah itu, kedua mempelai di bawah ke salon untuk dirias,” kata bibi, istri paman pelaut.

Rencana ketiga adalah pesta. Bagaimana melaksanakan pesta? Untuk ini, saya memberi tawaran duluan. Karena sejak di rumah diwanti-wanti oleh Bapak kalau ia harapkan pestanya digabung saja. Satu kali sudah cukup!

Keluarga mempelai perempuan mengabulkan harapan ini. “Tidak ada masalah,” timpal bapak calon mempelai perempuan. 

Bagaimana dengan mas kawin? Ini juga dirembukkan cepat. Seperangkat perhiasan emas dan alat salat. Tidak ada rincian berapa gram yang harus disiapkan mempelai laki-laki. Pembicaraan tentang ini, dalam amatan saya, seperti hal yang tidak penting. Sangat longgar karena tidak menetapkan rincian berat emas. “Satu stel perhiasan dan alat salat,” kata si bapak, menirukan ungkapan kalangan perempuan.

Kami lalu tiba di agenda uang panai’. Lagi-lagi, saya memberi kesempatan kepada keluarga perempuan. Namun bapak mempelai perempuan mengalihkan wewenang ke bibi istri paman pelaut.

“Saya tidak berani membicarakannya. Biar yang perempuan memutuskan,” kilah sang bapak.

Dari bibir bibi mempelai perempuan berumur 35 tahunan itu meluncur angka. 50 juta!

Saya terkesima. “Banyak amat!” saya membatin. Lebih tinggi 10 juta dari harapan saya dan keluarga.

Sementara saya berpikir keras mencari alasan tepat, Nunung berbisik ke telinga kanan saya. Dia memberitahu untuk menawar turun sesuai permintaan Asdi. Tawaran saya lepaskan. Keluarga perempuan diam beberapa jenak; mencari alasan, mungkin.

“Tidak ada yang murah sekarang (untuk keperluan pesta), dik,” begitu dalih si bibi, seraya tersenyum.

Mungkin si bibi paham karena kakak ipar saya adalah pelaut, yang identik dengan gaji besar. Suami si bibi sejak sangat akrab dengan kakak ipar saya. Sudah berteman sejak di sekolah pelayaran dulu di Jalan Yos Sudarso, Makassar. Hanya suami si bibi memilih berlayar dan mendarat tiap tiga bulan. Sedang Asdi mengambil pelayaran setahun. Seingat saya, selama dua tahun terakhir, baru dua kali dia melempar sauh. Kepulangannya lama kali ini. Ia melanjutkan sekolah ke strata satu sekaligus melamar pacarnya. Sekali melempar jangkar, dua tiga urusan bisa kelar.

“Tidak bisakah turun, Tante? Saya pikir, baiknya sepuluh juta dari itu jadi perhiasan untuk tabungan mereka nanti…” kata saya.

“Aih, tidak bisa, Dik. Banyak juga keluarga yang harus kami panggil. Itu harus dibelikan tiket juga.” kilah si bibi. Keluarga yang dimaksud si bibi adalah kerabat dari ibu mempelai perempuan yang ada di Pulau Jawa. Ibu mempelai perempuan berdarah Jawa. Si mempelai perempuan adalah anak sulung.

Hening.

Saya memandang ke Bapak dan Ibu. Tak ada jawaban.

Harga itu mendekati angka final, meski saya masih dongkol dengan angka permintaan dari si bibi. Apa boleh buat, kata orang-orang tua, menawar sampai dua kali sudah lebih dari cukup.

Nenek calon mempelai perempuan segera mengambil kendali. Ia menyilakan kami mencicipi makanan. Saya mengambil barongko (kue pisang). Makanan manis-manis, konon, pertanda tuan rumah menerima lamaran seseorang. Berbeda bila si tuan rumah menyuguhkan ubi kayu. “Sesuatu yang keras (melambangkan keputusan teguh). Baru melembek bila dimasak hingga mendidih,” jelas saya pada Piyo.

Basa-basi memenuhi ruangan. Kali ini si bapak menanyai saya bekerja di mana dan berkegiatan apa saja. Saya jawab secukup yang ia butuhkan. Saya pun melakukan sebaliknya.

Usai menyantap ragam kue itu, saya memulai percakapan lagi. Kali ini hanya menegaskan beberapa poin penting yang saya catat sejak mula pembicaraan. Bagian ini cepat saja. Hanya yang perlu ditetapkan kemudian adalah jadwal. Jadwal ini nanti yang akan kami bawa dalam pelamaran resmi. Jadwal pun sangat bergantung pada ketersediaan gedung.  Kami pun pamit.

Bapak tampak sumringah dalam perjalanan pulang. Mungkin dalam pikiran Beliau, tanggungjawab menikahkan anaknya nyaris rampung. Tinggal menunggu beberapa hari saja.

“Tinggal gedung yang harus kita cari,” kata saya, membuka pembicaraan.

“Tolong bantu Asdi cari gedung,” tanggap Bapak.

Ibu juga sama. Begitu sekilo menjelang rumah, Ibu meminta Nunung membelokkan mobil menuju rumah makan di bolevar terdekat rumah kami.

“Saya yang traktir,” katanya, tersenyum.

Uang panai’ sebenarnya tidak lain uang belanja pesta. Besaran yang disepakati akan dipakai mendanai keperluan pesta untuk mempelai perempuan. Biaya inilah yang selama ini menjadi momok bagi laki-laki Bugis. Meski kakak saya tidak berdarah Bugis, tapi itu yang terjadi dan berlaku umum di Sulawesi Selatan—calon mempelai laki-laki harus menyediakan sejumlah uang panai’. Besar kecil uang panai’ menjadi tameng siri’ (kehormatan) sebuah keluarga. Makin besar dan mahal sebuah pesta, kian besar pula kemungkinan kehormatan sebuah keluarga bisa terpelihara.

Kawan saya pernah terbelit masalah uang panai’. Kejadiannya Maret 2011 lalu, kurang lebih dua bulan ketika tulisan ini saya buat. Pacar kawan saya bersuku Bugis bermukim di NTT. Kedua pihak sudah mengancang-ancang tanggal pernikahan. Tiba giliran lamaran resmi, bapak kawan saya terbang ke NTT. Di sana ia menawar sampai dua kali. Tersebab pertimbangan agama, ia meminta keluarga perempuan untuk menggelar pesta sederhana saja. Karenanya, ia menawar agar uang panai’ tidak perlu banyak. Rupanya, ibu calon perempuan berkeras. Singkat cerita, Bapak kawan saya pulang dengan tangan melompong.

“Saya stres. Saya tidak habis pikir, beberapa hari lalu jadwal sudah ada, tapi sekarang hilang begitu saja,” ujarnya, lemas. Untuk mengusir pening tentang rencananya yang buyar, ia menghabiskan waktu dan bersibuk bersama saya.

Belakangan ia tahu, rupanya ibu sang pacar ingin menggelar pesta besar-besaran. Ibu pacar kawan saya ingin memestakan perkawinan anaknya kali ini karena sebelumnya pernikahan anak sebelumnya tidak diramaikan. “Dia sudah tidak tahan dengan omongan tetangga dan sanak keluarga,” terang kawan saya.

Senior saya, Yahya, pengkhidmat ilmu antropologi, mengatakan, ada hubungan antara gundulnya hutan Kalimantan dengan mahalnya uang panai’ untuk perempuan Sulawesi Selatan. “Besarnya uang panai’ mendorong laki-laki dari sini untuk merantau ke Kalimantan. Salah satu bidang pekerjaan yang dirambah banyak laki-laki yang berangkat ke sana adalah perkayuan,” jelas Yahya.

ASDI LANGSUNG mencari gedung esok harinya. Ancang-ancang dia, pernikahan sebaiknya berlangsung selekas mungkin. Ia kuatir sibuk ujian mata kuliah di pertengahan Juni. Takutnya juga, kata Asdi, ada panggilan dari kapal setelah itu. Hanya saja, keluarga calon istrinya sudah menyatakan tegas kalau mereka tidak bisa bulan Mei. Terlalu mepet waktu persiapan, menurut si bibi. Sehari kemudian gedung sudah pasti. Bahkan ia sudah membayar panjar tanda jadi.

Ada pantangan setelah lamaran berlangsung, yakni calon mempelai laki-laki tidak boleh datang ke rumah mempelai perempuan. Tapi pantangan ini dilanggar Asdi. Keluarga mempelai perempuan meminta tambahan, yakni dua karung beras. Meski nilainya kecil, pelanggaran pantangan ini dianggap melemahkan wibawa kesepakatan sebelumnya. 

Tujuh hari setelah mammanu’-manu’, kami siap berangkat lagi ke rumah calon mempelai perempuan. Kali ini, Bapak meminta saya memberi tahu hasil kesepakatan proses penjajakan. Lelaki sepuh itu pensiunan sebuah dinas pemerintahan. Kalangan seperti ini kerap jadi tetua sekaligus juru bicara dalam acara sepenting ini.

“Kita mo saja yang lanjutkan. Takutnya salah-salah. Kita toh yang datang dulu,” tanyanya. Gaya bicaranya ingatkan saya pada dokter Boyke.

“Iye’. Tapi Bapak minta saya untuk kasih tahu ke kita untuk jadi juru bicara,” jelas saya.

Dia masih berkeras. Ia melunak setelah Bapak dan seorang lelaki separuh baya memintanya. Saya menulis dan menjelaskan ulang seluruh kesepakatan ke dia. Beberapa saat kemudian kami berangkat.

Sepetak tenda berukuran kecil berdiri di rumah calon mempelai perempuan. Lima puluhan tamu dari keluarga terdekat perempuan sudah berkumpul di situ. Tukang foto dan tukang syuting menyambut kedatangan kami. Mereka tak memerlukan sinaran lampu tambahan. Hari itu cuaca terik. Jam 10.00 kami tiba di sana, sejam terlambat dari jadwal.

Si Pensiunan mengucap salam. Saya mendampingi Si Pensiunan sampai duduk di ruang tamu yang berkilap oleh hiasan-hiasan pernikahan di langit-langit ruangan. Hanya saya yang mengenakan kemeja biasa dengan lengan tergulung. Lainnya, para orangtua dan kerabat mengenakan kemeja batik atau memadu jas dengan sarung sutera warna mencolok dan songkok (pakaian resmi untuk kalangan sesepuh di acara nikahan Bugis). Sedang kalangan perempuan masuk ke ruang keluarga. Mereka mengambil tempat di dekat calon mempelai perempuan di ruang keluarga.

Kalangan tuan rumah menyambut kami. Juru bicara keluarga perempuan bukan lagi bapak si perempuan, melainkan seorang lelaki berkacamata dan berkumis. Umurnya berkisar 45. Gaya bicaranya seperti staf humas sebuah instansi. Mungkin teman kerja bapak calon perempuan di bank.

“Saya adalah om-nya (paman),” jelas Si Kumis.

“Saya telepon ki kemarin, tapi tidak aktif,” kata bapak mempelai perempuan pada saya.

“Iye, pak, kayaknya saya cas (charge) hapeku kemarin,” tanggap saya, tersenyum.

Setelah menyampaikan patahan-patahan kalimat sambutan selamat datang, hal pertama yang disebut oleh Si Kumis adalah uang panai’. Begitu giliran rombongan kami bicara, Si Pensiunan segera mengkritik tentang mendahulukan membicarakan uang panai’. Menurut Si Pensiunan, itu berkesan ada 'jual-beli' terjadi. Padahal, kedua keluarga sebenarnya melaksanakan perintah agama. Si Kumis segera mengklarifikasi ucapannya.

Singkat cerita, proses itu berjalan lancar. Tapi istri sang jubir, yang bertugas membawa uang panai', mengungkapkan bahwa ia sebenarnya was-was sejak berangkat sampai tiba di rumah perempuan. 

Setiba di rumah, Bapak tampak sumringah. Seorang kerabat berseru, "Pantas ji 50 juta tawwa!” Mungkin lelaki berkumis itu ingin menyatakan bahwa 'harga' itu sepantas dengan kecantikan calon mempelai perempuan.

Sehari setelah itu, saya ceritakan pengalaman saya ini ke kawan saya, Eko.

“Tua betul maki pale’ di’,“ tanggap Eko.

Tawanya tidak mau berhenti.[]