Film Makassar di Bulan Puasa

“Sayang saya tidak bisa ikut. Bulan depan saya usahakan. Cinta bisa diputar Dewi Bulan kapan saja.”

Saya baru saja menghubungi Rusmin Nuryadin, dedengkot Rumah Media. Saya mengundangnya ikut dalam salah satu agenda gerbios Dewi Bulan, sekaligus minta izin putar film garapannya. Saya bergabung dalam Tanahindie sejak April 2011, sejak mengurus program Gerobak Bioskop Dewi Bulan bersama senior saya, Nur Mumammad Ahmad dan teman seangkatansaya, Hafsani Latief. Hanya saja karena kendala, Sani melewatkan tiga episode terakhir Dewi Bulan.

Untuk episode kali ini, saya bertanggung jawab mengumpulkan materi film lokal Makassar. Ide memutar film-film indie Makassar terselip dalam candaan kakak Anwar Jimpe Rachman di satu malam bergelas-gelas kopi. Film-film yang akan diputar pernah booming di Makassar. Cinta samadengan Cindolo na Tape, besutan Rusmin Nuryadin, Delusi karya tangan terampil sutradara muda bernama Aditya Ahmad dan terakhir milik sutradara dari komunitas FreeMovie asal Ambon, Ronald Renwarin Rey, berjudul No Entry.

Aditya mengonfirmasi ketidakhadirannya. Ia dan Rusmin akan syuting Video Klip band lokal Makassar pada sabtu malam, 13 Agustus 2011, bertepatan dengan turunnya Dewi Bulan. Praktis, hanya Ronald Renwarin Rey yang berkesempatan menyaksikan lolongan Dewi Bulan episode ini.

Malam sebelumnya, di salah satu Warkop tempat teman-teman Kampung Buku sering menghabiskan malam, Rey terlihat sangat antusias mendengar cerita Reysha tentang Gerbios Dewi Bulan.

“Saya su dengar tentang Dewi Bulan sejak beberapa bulan lalu. Saya juga penasaran, kapan bisa datang ke sana. Senang ka’ dapat ini undangan,” timpalnya malam itu. Rey kemudian mengeluarkan sampel film yang akan diputar. Reysha memutar satu-persatu keping DVD tersebut. Hanya satu yang lulus Lembaga Sensor-sensoran Dewi Bulan, No Entry. Tema film besutan Rey terbilang kontroversial. Mulai dari seks bebas, narkoba, trans-genders sampai isu SARA. Jika tema-tema tersebut dikemas dengan bungkusan yang lebih soft, mungkin akan lulus sensor. Namun sebagian besar adegan disajikan dengan gaya vulgar khas Rey. Rey mahfum alasan mengapa dua film lain tak bisa diputar.

“Gambar-gambarnya terlalu berani. Takut nanti digrebek FPI. Hahaha.. lagipula kami akan nembak layar di tengah jalan dan ditonton masyarakat umum. Takutnya mengganggu,” jelas Reysha setengah bercanda.

“Tidak apa-apa. Ini ramadan juga, nanti ada apa-apa,” lanjutnya, tertawa. Pertemuan malam itu ditutup dengan janji Rey mengikutsertakan kru dan cast No Entry.

Halaman Kampung Buku mulai ramai satu jam sebelum Pasar Komunitas digelar. Tiga meja diatur sejajar menghadap jalan utama kompleks perumahan BTN CV Dewi. Barang-barang harga miring, mulai dari pernak-pernik sampai kepingan kaset jadul ditata apik di atasnya. Saya tiba dua jam sebelum kegiatan kedua dimulai, Buka Puisi. Satu agenda khas ramadhan, berbuka puasa bersama di halaman Kampung Buku sambil sental-sentil puisi. Bukber kali ini disponsori langsung oleh Barack Aziz Malinggi. Barack sendiri dikenal sebagai tim sukses lahirnya buku Makassar Nol Kilometer bersama Mansyur Rahim, penasihat teknis Gerbios Dewi Bulan. Selain Barack, mahasiswa fakultas Ilmu Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Hasanuddin juga turun tangan. Lebih dari lima orang mahasiswa memadati Kampung Buku.

Ada kabar buruk dari Rey, ia tak sempat menghadiri rangkaian acara satu ini. Fatah Tuturilino, komposer lagu Hukum Kekekalan Tawa (OST. Aliguka) juga batal hadir. Reysha berpikir nyaris tak mungkin menjalankan kegiatan ini sebab mereka kekurangan narasumber. Sejatinya tidak ada satupun usaha yang gagal, kegiatan tetap berjalan apa adanya. Bincang-bincang berlangsung sambil menikmati suguhan makan malam di halaman Kampung Buku.

Setelah bincang-bincang, pendorong Gerbios harus menunggu selesainya shalat taraweh kurang lebih dua jam. Waktu transisi ini digunakan penonton untuk ngobrol santai di halaman. Beberapa menit kemudian, Pasar komunitas menyepi. Tiba-tiba saja tercipta ruang lapang di halaman Kampung Buku. Tidak sepadat sebelum Buka Puisi. Inilah masa di mana Gerbios bisa kehilangan satu-persatu penonton atau malah menambah lebih banyak penonton. Dewi Bulan telah melolong sebanyak empat kali di Kampung Buku. Penonton yang datang selalu beragam. Biasanya ada yang hilang di tengah-tengah pemutaran. Bisa jadi musababnya mereka kurang nyaman dengan suasana Gerbios. Variasi penonton selama ini juga kurang. Paling-paling mereka, penggiat Tanahindie dan Kampung Buku, dan kenalan-kenalan mereka. Target utama Gerbios, masyarakat sekitar kompleks malah kurang.

Ada berapa kali Reysha ditanyai warga kompleks. “Apa itu rame-rame di Kampung Buku?” Saya menceritakan program mereka ala kadarnya dan mengajak mereka penuh keramahan. Seperti penduduk kompleks kebanyakan, Sabtu malam adalah malam keluar kompleks. tentu ini membuat mereka melewatkan episode Gerbios. Biasanya yang tertinggal di portal kompleks hanya para pemuda yang sering mangkal di warnet dekat Kampung Buku.

Malam itu, mereka mangkal di portal. Saya mencoba ngobrol dengan mereka, mengajak mereka turut menonton. Tiba-tiba melintas anak-anak kompleks menuju masjid. Mereka juga menanyai saya hal yang sama. Cukup lama ngobrol, Reysha berhasil mengajak mereka menengok Pasar Komunitas dan menyentuh rak-rak buku Kampung Buku. Anak-anak tadi pun ikut menjejali halaman rumah. Mereka diberi ComicalMags dan sajian buka puasa. Gerbios belum pernah seramai ini. Penonton bertambah, bak semut hitam mengerumuni sepotong roti bakar rasa cokelat. Layar pun ditembak, Dewi Bulan mulai melolong!

Bioskop Dewi dibuka oleh film Cinta, drama cinta pertama yang menggelitik dan telah memperoleh 10 nominasi di festival film pendek nasional. Selanjutnya, No Entry. Ada sedikit kekuatiran terhadap penonton, mungkin akan kaget dihadapkan pada tema film tersebut, namun sang sutradara memberikan arahan yang menarik sebelum film diputar, membuat penonton bisa menikmatinya dari sudut pandang yang diharapkan Rey. Agar tema lebih beragam, Nur Muhammad Ahmad mengusulkan (Jangan) Ada Kusta di antara Kita, sebuah film dokumenter bikinan M Aan Mansyur yang tergabung dalam kompilasi film In-Docs. Sebagai film pamungkas, Delusi tepat jadi pilihan saya. Dari segi tema dan teknik, film ini terlihat bagus bibit, bebet, bobotnya. Teknik, colour correction, cinematografi, dan casting berpadu dalam bungkus film pendek drama dewasa eksperimental.

Di awal terbentuknyanya Gerbios, Mansyur Rahim membuat akun grup untuk program ini di Facebook dan akun twitter @dewiboelan. Reysha menyempatkan diri membuka dua akun ini. dari twitter, ia mendapati @dewibolen di-mention beberapa kali. Ada yang menanyakan kapan lagi Dewi Bulan melolong dan ada pula yang meminta penjelasan apa itu Gerbios Dewi Bulan. Di Facebook, seorang pemain film menanyakan hal yang sama. Dia berjanji akan menghadiri Gerbios episode 7 bulan September 2011.

Sampai di sini dapat dipelajari bahwa publikasi Gerbios belum maksimal. Pemanfaatan akses dan situs jejaring sosial tidak bisa dijadikan andalan utama. Demikian pula dengan penyebaran isu via sms atau telepon. Masih ada di antara penonton kita yang membutuhkan selebaran berupa pamflet atau brosur. Jika dua jenis media informasi ini dimaksimalkan, tentu Gerbios akan semakin ramai.

Sampai saat ini, sejak tahun 2008, tahun itu salah satu harian kota melancarkan program Cinemalicious, workshop penggarapan film yang digelar dari sekolah ke sekolah. Mulai saat itu lahir puluhan film indie yang mengangkat tema lebih Makassar. Workshop itu ditutup dengan lomba. Satu film berjudul Perempuan disematkan predikat Film Terbaik, karya siswa-siswi kelas tiga Man Model Makassar. Skenario dan sinematografi dirancang sendiri oleh saya.
Geliat perfilman Makassar juga tertangkap di berbagai universitas. Liga Film Mahasiswa Unhas mengadakan Diksar 7 di tahun yang sama. Dan diam-diam, M Aan Mansyur, Rusmin Nuryadin, Arman Dewarti serta Anata Aulia Kautsar bersama Rumah Ide dan komunitas film lainnya sedang menggarap film berjudul Aliguka. Mereka pun tergabung dalam Forum Film Makassar. Aliguka akhirnya menjadi film yang paling banyak ditonton dan diputar selama tahun 2010, dibintangi musisi dan aktor jebolan fakultas Seni UNM, Iip Level dan aktris cantik Fadila Ayu Hapsari.

Akhir tahun 2010, bersama beberapa kru Aliguka, di antaranya Andi Burhamzah, Andi Rio Supriadi, dan Andi Pangerang Maulana, saya menggarap film bergenre drama komersil kedua setelah Aliguka berjudul Perempuan Kami. Film ini mendapat respons yang bagus dari masyarakat dan telah berkali-kali diputar di Maros.

Sejauh ini, menurut M Aan Mansyur komunitas film Makassar dibilang kurang percaya diri. Materi cerita dan sarana sebenarnya ada, namun mereka tak percaya diri menunjukkan tajinya. Tidak bisa dipungkiri, antusiasme penonton Makassar tak sepanas masyarakat di Jawa sana. Apresiasi terhadap karya lokal, jangankan film, dalam berbahasa saja mereka kurang percaya diri. Namun hal ini tidak bisa dijadikan alasan. Walapun kesannya kurang direspon, toh kaum minoritas penggiat film lokal masih berani menunjukkan kemampuan mereka. Tema Gerbios Dewi Bulan Agustus ini memang berangkat dari wacana tersebut. Menurut Anwar Jimpe Rahman, apresiasi yang kurang kemungkinan besar berasal dari ketidaktahuan mereka mengenai perfilman lokal. Konsep tembak layar Dewi Bulan adalah salah satu cara mendekatkan masyarakat dengan film-film lokal. Ada banyak masyarakat yang ingin nonton tapi tidak tahu nonton di mana. Banyak yang ingin berkomentar, tapi apa yang mesti dikomentari?

[eki]

Gubernur dan Bissu Saidi

RABU, 1 JUNI 2011 sekira pukul 13.00, saya mengunjungi Bissu Saidi di Rumah Sakit Labuang Baji, perawatan Baji Dakka III, kamar 323 lantai 3. Kondisinya sudah sedikit membaik dan wajahnya mulai tampak merah. Tak seperti pada pekan sebelumnya, pucat dan tak mampu berbicara.
Bissu Saidi atau Puang Saidi atau juga Puang Matoa, saya lebih senang menuliskan dengan nama Bissu Saidi. Dia dipindahkan dari Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo pada 31 Mei 2011, sore hari. Alasan kepindahannya belum tahu?
Ketika saya mengunjunginya di Labuang Baji, dia sedang disuap makan bubur seorang perempuan kerabatnya, dari rantang palstik jatah dari rumah sakit. Bissu Saidi pelan-pelan menelannya. Lalu saya menyapanya, dia memiringkan sedikit kepalanya, melihat, setelah itu melanjutkan kunyahannya.
Saya harus memberitahumu, bila fisik Bissu Saidi secara kasat mata lebih kurus dari sebelumnya. Dadanya terlihat begitu tipis, wajahnya semakin tirus. Dia terbaring di ruang kamar perawatan kelas III, seharusnya ada empat ranjang, tapi satu yang lainnya dikeluarkan. Dua lain yang terisisa digunakan keluarga untuk beristirahat saat menjaga Bissu Saidi.
Tapi ranjang-ranjang itu akan kembali terisi bila ada pasien lain.
Saya bercerita dengan keponakan Bissu Saidi, perihal kepindahan rumah sakitnya. Dia juga tak tahu apa-apa. Namun, dia ada cerita. Waktu dirawat di RS Wahidin Sudirohusodo kebutuhan obatnya sangat mahal. Ada obat yang harganya dua juta lebih, padahal hanya dalam botol kecil. Dia menjelaskannya dengan memperlihatkan gerakan mengapit jari telunjuk hingga menyentuh jempol jari tangannya. “Kecil itu botol,” katanya.
“Di sana (RS Wahidin Sudirohusodo) obatnya mahal-mahal,” lanjutnya.
“Bagaimana dengan pembayaran rumah sakitnya,” kataku. 
“Iye yang di Wahidin dibayarkan Bupati Barru,” katanya.
“Bupati Pangkep bagaimana?”
“Nda ada.”
“ Bupati Barru bayar beserta obat-obatnya.”
“Belum.”
“Tapi akan diganti?”
“Belum tahu juga nanti.”

SAYA BERHENTI di cerita itu. Saya beralih mengamati ruangan rawat Bissu Saidi. Tembok warna biru, ada televisi ukuran 14 inci, sebuah lemari kecil, dan toilet. Jendela yang lebar dan pintu yang rusak. Tak ada pendingin udara. Cukup gerah berada di dalamnya.
Bissu Saidi berbaring tak menggunakan baju. Hanya ada tutupan helai sarung yang menyembunyikan tulang dadanya yang semakin menonjol. Rambutnya digulung ke atas bantal. Dan dua botol infus menusuk pergelangan tangan kanannya.
Sebelum kehadiran saya di ruangan Bissu Saidi, ada rombongan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo yang menjenguknya. Ruangan penuh orang. Koridor depan kamar pun penuh. Rombongan itu membawa serta pula wartawan. Ada yang mengambil gambar dan mencatat peristiwa kunjungan itu.
Sementara saya datang dengan adik saya. Kebetulan tempatnya ikut tes masuk perguruan tinggi dekat dengan RS Labuang Baji, jadi sekalian. Namanya Eva. Dia begitu gembira diajak menemui Bissu Saidi. “Saya itu lihat satu kali ji di tivi (saya hanya lihat Bissu Saidi satu kali di televisi),” katanya.
Setelah masuk kamar dan saya menyapa Bissu Saidi dan kerabatnya. Wajah Eva berubah. Di perjalanan pulang dia bilang kasihan sekali. “Awwe! Mapakasiara-ara (kasihan benar),” katanya.
Ternyata Eva juga menyimak cerita tentang kunjungan Gubernur Sulsel. “Ada Gubernur datang, tapi nda ada kulihat buah-buah atau apakah yang dibawakan,” katanya. “Mungkin datang bang ji menjenguk dan kasi lihat dirinya le (mungkin hanya datang menjenguk dan perlihatkan diri saja).”

(Eko Rusdianto)

Catatan: Tulisan ini tulisan kedua terkait kondisi Puang Saidi.

Di Balik Kisah Sukses La Galigo


PERTEMANANKU dengan Puang Matoa Saidi terjadi pada April 2011. Saya mengunjunginya di rumah Arajange di Segeri Kabupaten Pangkep. Rumah itu dikelilingi pagar tinggi, halaman yang luas dengan hamparan rumput mirip lapangan.
Puang Saidi begitu dia dikenal. Seorang bissu atau pendeta Bugis zaman dulu yang sekarang masih bertahan. Pertemuan pertama itu ternyata membawaku dalam cerita yang panjang. Hingga pada 23-24 April 2011, naskah panjang  yang konon melebihi panjang epos Mahabharata yang hanya 200.000 baris, sementara Sureq I La Galigo mencapai 300.000 baris di pentaskan di Benteng Fort Rotterdam Makassar.
I La Galigo begitu judul pementasan teater, tari, dan musik yang disutradarai Robert Wilson. Epos masyarakat Bugis itu dihidupkan dalam lakon sekira tiga jam. Puang Saidi menjadi salah satu tokoh sentral dalam pementasan itu. Meski hanya duduk di bagian depan panggung, tapi dialah yang menjadi pengantar dan penyambung cerita dari bacaan sureq-nya yang mengalun dengan indah. Cengkok bugis dan irama seperti alunan musik.
Sebelum hari pementasan itu, saya bertemu dengannya di Hotel Makassar Golden Hotel (MGH) di kamar yang disiapkan panitia pementasan dari Yayasan Bali Purnati. Lantai dua. Sederhana dan bukan kamar spesial. Saya tak memberitahunya bila komposer musiknya Rahayu Supanggah dan beberapa lainnya, termasuk Robert Wilson hingga Restu dari Bali Purnati menginapnya di Hotel Aryaduta yang lebih baik dan mewah dibanding MGH.
Puang Matoa Saidi 2004.
Puang Saidi adalah seorang ahli spiritual dan pelaku seni. Dia mengerti dan mampu membaca sureq Galigo yang minta ribetnya dengan bahasa Bugis dulu. Menurut catatan orang yang mampu membaca naskah itu tak sampai 50 orang di seluruh dunia. Salah satunya adalah Puang Saidi dan Muhammad Salim (alm.).
Muhammad Salim berkawan juga dengan Puang Saidi. Sayangnya saya tak sempat bertemu dengan Salim dan dia keburu meninggal dunia. Tapi Puang Saidi sudah punya firasat sebelumnya.
Dari kasurnya di kamar Hotel MGH, dia berbaring dengan telanjang dada. Badannya begitu kurus dan rambut yang panjang, tipis dan hitam. Bibirnya gemetar bila mengucap kata. Ada bungkusan obat di meja sisi tempat tidur itu. “Hampir ka mati nak,” katanya memulai pembicaraan.
Saya senang dia memanggilku ‘nak’ atau ‘anak’. Meski itu adalah panggilan orang tua ke lawan bicara yang jauh lebih muda dari dirinya. Ceritanya, ketika berangkat dari Segeri, menggunakan sebuah angkutan umum, dia membawa beberapa peralatan yang menjadi koleksinya sebagai seorang bissu. Karena kelelahan dia berbaring ketika tiba di MGH. Peralatan-peralatan itulah yang pada hari pementasan dipamerkan.
Saat selesai berbaring dan merasa diri lebih enak, dia masuk ke kamar mandi. Tiba-tiba dalam kamar mandi hotel yang terang benderang itu menjadi gelap. Gelap sekali. Puang Saidi sadar ada yang tak beres dengannya. Kepalanya kemudian terasa berat dan badannya mulai kaku. Lidahnya kaku dan dia menggapai ranjang dengan berjalan mengesot. Mungkin dia pingsan beberapa saat sebelum menelpon keluarganya.
Beberapa jam setelah dia siuman, saya menanyakan kabarnya. Tak membalas sms, dia malah menelpon. Dia cerita dengan suara yang berat dan lemah. Sakit inti ceritanya.
Saya bergegas ke MGH. Dan di ranjang itulah dia berbaring, dengan kepala yang diberi handuk basah.

BERKALI-KALI dia ucapkan kata Allah (Puang La Ta'ala), Opunna Ware (Sawerigading tokoh dalam I La Galigo). “Saya kira mau ma mati, nak,” katanya pelan.
Pelan-pelan dibuatkannya kata-kata untuk menceritakan apa yang terjadi dengannya. Bahasa Indonesia campur Bugis. Pertama dengan nada datar dia bercerita kilas balik tentang pementasan I La Galigo yang sejak tahun 2003 mulai dibincangkan dan keliling dunia. 
Adalah Restu Imansari Kusumaningrum yang pertama kali dia sebut. Seorang direktur kreatif Yayasan Bali Purnati yang menjadi event organiser pertunjukan I La Galigo sejak 2003 hingga ke Makassar 2011. Menurut Saidi, Restu sebagai perantara dan koordinator pemain adalah orang bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan.
Sebelum berangkat mengarungi belahan Erorpa dan Amerika membawa karya Robert Wilson, Restu menjanjikan upacara syukuran pa'bissuan di Sulawesi Selatan bila telah menginjak dua negara. Janji itu ditawarkannya pada Saidi dengan simbolis air. “Air itu masih saya simpan sekarang. Masih ada nak itu air,” kata Saidi.
Namun, janji itu hanya sebuah ungkapan lidah yang tak pernah bisa dibuktikan. Tahun 2005, ketika I La Galigo kembali ke Indonesia dan bermain di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Saidi mengingatkan janji itu. Restu hanya terdiam.
Nah ketika, Mak Coppong meninggal pada akhir tahun 2010, Saidi mengingat nazar pementasan dari Restu. Tak ada pilihan lain. Dia menceritakannya pada Restu dan kembali tak ada tanggapan.
Sebuah isyarat, dari alam lain. Bila akan ada lagi tokoh I La Galigo yang akan menyusul. Dan pada 27 Maret 2011 sebulan sebelum pementasan I La Galigo di Makassar, penerjamah sureq Galigo, Muhammad Salim menghembuskan nafas terakhir.
Dan ketika, apa yang dialami Saidi di hotel MGH pada 19 April 2011 itu dia menyangka dirinya lah yang menjadi giliran. “Mungkin saja nak,” katanya.
Tapi kekhawatiran itu begitu hingga sekarang tak terbukti. Tapi kesehatannya mulai teranggu. Dalam penglihatan dan penafsiran secara logika, dengan meninggalkan cerita mistis, Saidi sakit karena kelelahan. Terlalu banyak kegiatan.

BEBERAPA hari setelah baikan, dia mulai ikut latihan dengan kawan-kawan pementasan lainnya di gedung PKK Makassar. Hanya dua hari saja. Lalu kembali terbaring di rumah sakit Akademis. Kini tangannya sudah ditembus selang infus. Beberapa orang mengunjunginya.
Dan pementasan I La Galigo berjalan dengan baik, meski terdapat beberapa kekurangan. Saidi melakonkan bagian tokohnya dengan baik, meski dengan suara yang berat.
Hampir sebulan ketika orang-orang hanya mengenang dan bercerita tentang pementasan I La Galigo di warung-warung kopi dan kampus-kampus. Puluhan kilometer dari Makassar, tepatnya di Segeri, Saidi kembali terserang sakit. Dia menggigil dan deman. Gemetaran. Keluarganya memberi perawatan di rumah.
Seorang kawan lama Saidi yang peduli dengan perkembangan seni di Sulsel, Asdar Muis yang dalam perjalanan ke daerah melewati Segeri mengunjunginya. Dia melihat kondisi Saidi, tapi tetap melanjutkan perjalanan karena memang ada kegiatan. Niatnya, saat pulang dia akan mampir kembali melihat keadaan Saidi. Tapi alangkah terkejutnya Asdar, ketika mendapati Saidi terbaring di sebuah Puskesmas. “Saya tak tega,” katanya ketika saya bertemu dengannya di Rumah Sakit Wahidin Makassar, pekan lalu.
Saidi lalu di boyong ke Rumah Sakit Daya. Keadaannya kurang baik dan harus mendapat pertolongan dengan segera. Sesampai di RS Daya diagnosa awal dokter adalah tifus dan anemia akut. Ketika saya mengunjunginya pada sebuah siang, di lantai empat RS Daya tempatnya dirawat inap, sudah tiga kantong darah yang memasuki tubuhnya melalui selang yang menancap di pergelangan. Saidi berdarah O.
Saidi lahir pada tahun 1950-an, dia tak ingat bulan dan tanggalnya. Dan dalam keadaan seperti itu, saya kembali bertemu dengannya. Makannya disuapi seorang kerabatnya, matanya hanya sesekali terbuka. Dia mulai tak mengenali orang. Suara yang keluar begitu pelan untuk mendengarnya harus mendekatkan kuping ke telinganya, begitu pula sebaliknya ketika menanyakan sesuatu padanya.
Tiba-tiba semua makanan yang disuapinya dimuntahkan kembali. Lengan kanannya dipenuhi bekas muntahan. Saya dan Sartika yang mengunjunginya begitu kaget. Beberapa kekalutan kami lakukan bersama kerabat lainnya. Saya menyambut tisu, tika mengambil air dari bak mandi dengan gayung merah.
Lalu, saya memanggil suster atau petugas jaga. Dan setelah petugas itu sampai di kamar inap, dia bertanya, apakah obat anti muntah sudah diminum sebelum makan. Walah mak, itu yang terlupa. Perawat lainya datang, membawa perlatannya dan memeriksa tekanan darah. Sangat rendah. 90 per 60.
Sartika menghancurkan tablet di sebuah sendok. Sampai begitu cair, lalu menyuapi Saidi. Seraya memberinya tegukan air hangat.
Beberapa saat kemudian, keadaan mulai tenang. Baju dan pakaian Saidi sudah diganti dari bekas muntahan. Tiba-tiba dering telpon Saidi berbunyi, nama yang tertulis dan memanggil adalah JK. Apakah itu JK.
Adik iparnya mengangkat dan menyapanya dengan kata Puang. Beberapa kali saya mendengar kata, “Iye, Puang.”
Ternyata suara JK dari balik telepon itu meminta Saidi dipindahkan ke rumah sakit Wahidin. Sukirman, nama adik ipar Saidi itu berlari ke petugas jaga. Memintanya bercerita dengan orang yang menelpon. Dan semua di ACC-kan. Saidi akan diboyong ke Wahidin.
Empat kerabat Saidi yang menjaga, tiga laki-laki dan seorang perempuan menghampirinya. Menceritakannya perihal telepon tadi. Mereka saling memberi semangat. Dalam bahasa Bugis. Setidaknya yang kutangkap adalah kegembiraan karena ada yang mengulurkan bantuan, memindahkan ke rumah sakit besar. Lalu kerabat yang perempuan mengeluarkan suara sesengukan, air mata, tanda haru. Kerabat laki-laki pun demikian.
“Apakah benar itu JK (Yusuf Kalla),” kataku.
“Iye. Saya tahu suaranya,” kata Sukirman.
Petugas rumah sakit Daya pun datang. Saya menanyakan perihal itu. Dan jawabannya semua sudah di atur. “Siapa dokter atau yang bertnggungjawab menjemput nanti di Wahidin,” kataku.
“Itu semua sudah selesai,” jawab sang petugas.
“Siap-siap maki, satu jam lagi Ambulance siap,” lanjutnya.
Kerabat pun bergegas. Mengumpulkan semua peralatan yang dibawa ke rumah sakit. Ada sarung dan selimut, tanpa tas. Hanya dibungkus pula dengan sarung.
Sartika menemaninya di atas ambulans dan seorang kerabat lainnya. Dan dua petugas rumah sakit Daya. Saya menyusul dengan motor. Hanya butuh beberapa menit, Saidi sudah berada di ruangan UGD RS Wahidin. Tak ada yang menjemput.
Petugas rumah sakit Daya pun pulang dengan ambulans. Saya saya tak tahu harus bagaimana, ini adalah pengalaman pertama membawa orang ke rumah sakit. Si JK yang tadi menelepon juga tak ada kabar, pesannya hanya bilang; coba koordinasikan dengan Kadis Kesehatan Provinsi.
Sudah beberapa jam Saidi terbaring. Belum ada tanda-tanda harus bagaimana. Dan apakah Saidi akan dirawat di ruangan kelas atau hanya di bangsal, mengingat dirinya sebagai aset budaya Sulsel?
Saya menelpon wartawan The Jakarta Post di Makassar, Hajra Murni. Dia datang dengan seorang kawan dari Tempo Makassar. Dia menelpon banyak orang dan memnta bantuan untuk Saidi.
Setelah itu melihat nomor kontak JK yang ada dalam hand phone Saidi lalu mencocokkannya dengan nomor kontak JK yang ada di hp-nya sendiri. Tidak cocok. Hajra curiga itu bukan JK (Yusuf Kalla) yang dimaksudnya.
Diteleponnya nomor JK yang pertama itu. Seseorang dengan suara yang agak angkuh mengangkat. Saya bercerita pertama kali, dan mengatakan; bapak siapa? “Ndak perlu tahu,” jawabnya.
Saya bingung, hape kuberikan ke Hajra dan dia bertengkar lewat telepon. Jelas dia bukan JK (Yusuf Kalla) yang diharapkan keluarga. Tapi semua sudah telat, Saidi sudah ada di UGD Wahidin sejak pukul 14.00 dan grusak-grusuk mengurus dan menelopon beberapa kolega, akhirnya dapat kamar di ruangan Infection Centre lantai 1 kamar 2.
Saidi dipindahkan ke ruangan itu sekitar pukul 20.00. Dan semua keluarga kembali lega meski masih berpikir akan biaya rumah sakit. Asdar Muis bilang, semoga ada teman-teman yang mengulurkan bantuan. Hajra, saya, dan Sartika juga berharap demikian. 


(Eko Rusdianto)
Catatan: Tulisan ini adalah bagian pertama dari dua tulisan ER tentang kondisi Puang Saidi pasca-pentas.

Peluncuran Gerobak Bioskop Dewi Bulan

Dewi Bulan, Datanglah…

Tanggal 23 April 2011, Tanahindie-ruangrupa menggelar Peluncuran Program Gerobak Bioskop. Program ini dilaksanakan 10 kota (Makassar, Jatiwangi, Semarang, Surabaya, Padang, Aceh, Mataram, Bali, Dili, dan Jakarta). Makassar mendapat kesempatan pertama.
Bioskop Dewi Bulan dilaksanakan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, setiap pertengahan bulan. Jadwal tentatif tiga bulan pertama: [1] Sabtu, 14 Mei 2011, pukul 19.30 Wita; [2] Sabtu, 11 Juni 2011, pukul 19.30 Wita; [3] Sabtu, 16 Juli 2011, pukul 19.30 Wita.
Program Bioskop “Dewi Bulan” mengadopsi salah satu nama bioskop di Makassar bernama Bioskop Dewi (kini runtuh dan diganti bangunan ruko) yang pas dengan nama tenar kompleks di mana Kampung Buku berada, yakni Kompleks BTN CV Dewi (nama resminya Kompleks Panakkukang Mas); dan menjadi pemutaran di pertengahan bulan, menunggu bulan purnama tiba!
Dalam acara peluncuran, Bioskop Dewi Bulan akan memutar film Nagabonar. Menurut project officer Bioskop Dewi Bulan, Bondan Nur Muhammad Ahmad, Nagabonar, film berdurasi 108 menit yang disutradarai Asrul Sani, merupakan salah satu dari sedikit film Indonesia yang melegenda. Menjadi pembicaraan hingga sekarang.
Selain film sejenis Nagabonar, film produksi artist dari ajang OK Video, karya-karya dalam komplikasi 10 Tahun Seni Video Indonesia 2000-2010.  
Tanahindie adalah ruang mandiri yang didirikan sejak 1999 di Makassar, yang menggalakkan program berbasis seni dalam pengertian seluas-luasnya, dalam bentuk pameran, penulisan, penelitian, dan penerbitan.
ruangrupa merupakan artist’ inisiative yang didirikan 2000 oleh kelompok seniman di Jakarta. Organisasi nirlaba yang mendorong kemajuan gagasan seni rupa dalam konteks urban dan lingkup luas kebudayaan melalui pameran, festival, laboratorium seni rupa, lokakarya, penelitian dan penerbitan jurnal.

Untuk keterangan lanjutan, hubungi:
Bondan (085341243206/0411433775)

atau datang langsung ke:

Kampung Buku
Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E
Panakkukang, Makassar 90234

Buzz, 100 Doa Pendek Ala Iwang


Sabtu malam di pertengahan Juni 2009, suara tawa renyah terdengar di Ruru Gallery. Tawa itu lepas dari lima remaja putri yang tengah asyik membaca kumpulan doa di salah satu sudut galeri yang terletak di kawasan Tebet Jakarta Selatan. Pemandangan itu tentu bukan hal yang lazim kita temui terjadi di sebuah galeri. Bagi sebagian besar masyarakat kita, galeri adalah tempat orang-orang dewasa menikmati karya seni dalam hening dengan dahi berkerut.

Kumpulan doa yang berisi 100 doa pendek yang dibaca lima remaja putri itu adalah salah satu bagian dari pameran bertajuk ‘Happiness’ karya Irwan Ahmett yang akrab dipanggil Iwang. Pameran “Happiness” ini adalah program pertama yang dilakukan oleh Ruru Gallery yang dikelola oleh Ruang Rupa sebuah initiative artist yang hadir sejak delapan tahun lalu.

Iwang membuka pamerannya dengan membuat sebuah presentasi kisah tentang makna kebahagiaan dari orang terdekatnya. Bagi ibunya, kebahagiaan adalah ketika ia bisa mencium tangan Abdullah Gymnastiar. “Tampak sepele bagi kita, tapi bagi ibu saya, mencium tangan Aa Gym membuat ia bahagia. Singkatnya, kebahagiaan itu sangat personal dan sebuah kekuatan besar di balik tindakan seseorang” tuturnya.


Berangkat dari hal yang sangat personal yaitu pertanyaan-pertanyaan seperti; “Kenapa saya dilahirkan?”, “Siapa orang yang paling saya sayangi” dan “Sudah bahagiakah saya” yang sangat mungkin juga dipertanyakan semua orang, kegelisahan akan pencarian makna kebahagiaan itu kemudian diolah dan diformulasikan dengan caranya sendiri.


Ia kemudian menghampiri publik dengan gagasan sederhana bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat dipelajari dan dengan sendirinya dapat diraih oleh siapa saja tanpa terkecuali. Gagasan sederhana ini lalu diterjemahkan melalui medium-medium yang sangat intim dengan kesehariaan masyarakat urban. Buku, handphone, kaset, pakaian dalam, kumpulan doa dan berbagai medium yang berhasil membunuh jarak antara karya seni dengan penikmatnya dalam kemasan urban art.

Urban art hadir menggantikan fungsi seni yang tadinya agung, klasik, murni, tinggi serta tradisional. Nilai-nilai tersebut kemudian diruntuhkan dalam urban art dengan cara menghadirkan karya seni ke tengah publik melalui media-media yang lekat dengan keseharian masyarakat kota. Seni tak lagi hanya ditampilkan dalam galeri saja, tapi juga menjadi media ekspresi yang bertarung di fasilitas publik dengan media lain semacam iklan di TV, billboard iklan, poster promosi dan lain-lain yang mendominasi hampir setiap ruang publik.

Salah satu sarana ekspresi yang menarik dalam pameran ini adalah sebuah buku kumpulan doa dan ruang bagi orang untuk berdoa yang diletakkan menghadap ke kiblat di salah satu sudut galeri. Dalam buku kumpulan doa itu ia memodifikasi doa-doa umum yang biasanya panjang menjadi doa-doa pendek. Kumpulan seratus doa pendek dengan cerdas memotret sekaligus juga melakukan sindiran pada masyarakat urban yang kian hari semakin terjebak pada kehidupan instan. Segala hal dilakukan dalam ketergesaan, bahkan untuk berdoa!

Kumpulan doa ini menampilkan permasalahan-permasalahan yang kerap terjadi dan mendominasi masyarakat urban mencakup masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya. Dibuka dengan doa “Kau tahu yang kumau”, sebuah plesetan dari tagline iklan sebuah produk fresh drink yang setiap hari menyapa melalui tv. Tentunya, juga tanggapan bagi iklan-iklan lain yang menyergap masyarakat melalui tv. Respons-respons terhadap iklan ini hadir dalam berbagai doa; “Hilangkan bau badanku” dan “Putihkan warna kulitku”.

Konsumerisme yang muncul seiring serbuan propaganda iklan yang gencar dilakukan oleh media massa, memaksa masyarakat urban kian konsumtif. Fenomena ini dihadirkannya dalam doa “Biarkan discount terjadi setiap hari” dan “Tuhan! Uang seribu sudah tak laku”. Dua lembar uang seribuan juga diletakkan begitu saja di lantai galleri untuk menunjukkan tak berartinya uang seribuan dalam budaya konsumerisme.

Iwang tak hanya memberi respons pada serbuan iklan, ia juga meledek masyarakat urban yang terjebak dalam budaya televisi. Simaklah doa “Semoga aku masuk tv”, dengan cerdas Iwang menangkap harapan akan surga yang kini beralih pada televisi yang menjanjikan beragam mimpi.

Permasalahan kemacetan yang menimpa masyarakat urban di tengah hidup yang menuntut segalanya serba cepat juga dapat kita temukan di dalam buku kumpulan doa ini. Baca doa-doa berikut; “Hijaukan semua lampu merah untukku”, “Jangan lagi aku dioper di metromini” atau “Perpendek jarak kantorku”.

Pada acara artist talk yang diadakan Ruangrupa, Iwang menuturkan ketergantungannya pada internet, “Sehari tanpa internet, serasa kiamat deh,” ungkapnya. Internet dan hape kini bukan lagi sesuatu yang mewah bagi masyarakat urban kita. Konter-konter penjual pulsa dan warung internet marak bermunculan di perkotaan. Fenomena ini memberi gambaran betapa konsumsi pulsa dan internet masyarakat urban mungkin sebanding dengan kebutuhan pokok lainnya.

Tak mengherankan bila permasalahan yang dihadapi dalam hal teknologi komunikasi dan informasi mendapat tempat yang luas dalam kumpulan doa ini. Terdapat sedikitnya 15 doa; “Awetkan pemakaian pulsaku”, “Cepatkan koneksi internetku” atau “Cepatkan jariku untuk ketik sms” serta beragam doa lainnya. Fasilitas tehnologi komunikasi yang menawarkan beragam kemudahan juga mengikut-sertakan dampak negatif. Ketersediaan phonebook dalam hape kemudian berperan dalam penurunkan kemampuan daya ingat seseorang. Doa “Kuatkan ingatanku untuk mengingat nomer telepon” dan “Jauhkan aku dari lupa”

Tekanan hidup dan beban pekerjaan yang menimpa masyarakat urban tak luput dari pengamatan Iwang yang dalam kesehariannya bekerja sebagai desainer grafis. Tak mengherankan bila ia menyodorkan doa semacam “Cepatkan datangnya week end” dan “Perbanyak tanggal merah tahun depan” bagi audiens-nya. Di antara himpitan waktu yang kian sempit tuk bisa sejenak lepas dari rutinitas, doa-doa ini bisa jadi memang hadir dalam keseharian masyarakat urban.

Tak hanya mendekatkan publik dengan karyanya Iwang juga melibatkan mereka dalam proses kreatifnya. Pelibatan publik, dalam hal ini orang-orang terdekatnya dan bukan dari kelas menengah ke atas, ke dalam proses kreatif juga menjawab mengapa Iwang bisa menghilangkan sekat dengan publik “Happiness”. Pemilihan foto-foto, salah satu medium yang dipakai Iwang, dilakukan oleh pembantu dan tukang kebunnya. Tak heran bila yang hadir adalah foto-foto yang begitu akrab dengan audiens. Tukang ojek, mahasiswa, ibu rumah tangga tentulah orang-orang yang tak asing lagi dengan kesehariaan kita.

Menggunakan medium foto Iwang melukiskan betapa kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat personal. Ada enam foto, ditampilkan melalui poster, yang menggambarkan sumber-sumber kebahagiaan yang berbeda bagi setiap orang. Bisa jadi sumber kebahagiaan itu sangat sederhana seperti es krim, sepatu atau seks yang menyenangkan.

Tak lupa, Iwang juga mengundang publik untuk menuangkan rumusan kebahagiaan ke dalam ruang berukuran sekitar 1 x 2 meter di atas tripleks. Kebahagiaan ternyata gampang-gampang susah semisal ‘Saya mau kawin lagi’ atau ‘Kebahagiaan itu adalah bila kita mampu melihat diri kita seutuhnya dan mensyukurinya”

Iwang juga sangat total meleburkan diri dalam proyek-proyeknya. Dalam project (proyek) sebelumnya yang bertajuk Change Your Self, Iwang bahkan sampai menambah kata Ahmett di belakang namanya sebagai bagian dari project itu. Dalam proyek di mana ia mengajak orang untuk melakukan perubahan dengan memberi nama baru di belakang nama masing-masing. Peleburan dirinya sampai batas sejauh-jauhnya hingga ia membuka diri seluas-luasnya dengan kesediaannya menerima email, sms dan telepon dari publik selama kurun waktu 2005 – 2007 ketika proyek itu berlangsung.

Bagi Iwang, sebuah karya dinilai bukan pada apa yang terlihat atau terasa tapi bagaimana karya itu bisa bekerja menyampaikan gagasan dan, kalau bisa, menawarkan solusi akan sebuah masalah. Ia meminjam pendapat Steve Job “Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works” yang juga dituliskannya pada dinding galeri sebagai bagian dari pameran.

Latar belakangnya sebagai pelaku desain komunikasi visual berperan penting dalam usahanya memahami konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan. Melalui desain komunikasi visual ia mengembangkan bentuk bahasa komunikasi visual berupa pengolahan pesan pesan untuk tujuan sosial yang ditujukan kepada pemirsanya.

Pada prinsipnya desain komunikasi visual adalah perancangan untuk menyampaikan pola pikir dari penyampaian pesan kepada penerima pesan, berupa bentuk visual yang komunikatif, efektif, efisien dan tepat. terpola dan terpadu serta estetis, melalui media tertentu sehingga dapat mengubah sikap positif sasaran. elemen desain komunikasi visual adalah gambar/foto, huruf, warna dan tata letak dalam berbagai media. baik media cetak, massa, elektronika maupun audio visual.
Tidak seperti seniman yang mementingkan ekspresi perasaan dalam dirinya, Iwang selaku seorang desainer komunikasi visual adalah penerjemah dalam komunikasi gagasan. Menurutnya, ekspresi itu harus dimengerti dan harus membuat sesuatu terjadi. Jadi sebuah karya seni bukan hanya asal coret kuas saja, tetapi harus ada yang bisa diberikan di baliknya. Ini kemudian ia wujudkan ketika menanggapi bencana Lumpur Lapindo yang terjadi di Porong, Sidoarjo. Iwang menawarkan pendekatan berbeda dan menarik melalui medium yang setiap hari kita lihat yaitu cetak urban berupa stiker dengan tulisan ukuran tinggi lumpur dan dipasang dengan ketinggian yang sama. Stiker tersebut ditempel di area-area publik untuk menyentil kesadaran masyarakat akan kondisi bencana lumpur Lapindo tersebut.

Bagi Anda yang melewatkan pameran ini, bisa melihat karya tersebut di situs pribadi Iwang, www.ahmettsalina.com. Di situs itu, ia juga mencantumkan jam yang menghitung mundur waktu ke banjir 5 tahunan Jakarta yang merupakan sebuah kritik agar kita bisa membenahi Jakarta agar tidak tenggelam lagi seperti awal tahun 2007 ini.

Seniman lain tentu memiliki kepedulian dan komitmen yang sama akan realitas sosial yang terjadi pada masyarakat sekitarnya tapi menggunakan pendekatan berbeda dan medium lain. Mungkin banyak lukisan yang tercipta karena bencana banjir tahunan Jakarta itu. Pertanyaannya adalah seberapa efektif lukisan itu bisa membangkitkan kesadaran masyarakat bila hanya segelintir orang bisa melihatnya di dalam galeri. Di celah inilah Iwang dan urban art hadir dengan gagasan dan medium yang begitu intim dengan masyarakat. (@nzhu)

Merebut Ruang di ‘Kota Menor'

Pada Sabtu 17 November 2007, pukul 19.00 Wita, perupa Firman Djamil (FD) menampilkan performance art berjudul "The Death After Election" (TDAE), di halaman Komunitas Ininnawa, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Firman menyuguhkannya sebagai penyadaran untuk warga sekitar agar bangkit mengupayakan ruang yang terasa kian sempit bagi warga. Sepekan kemudian, Panyingkul! (www.panyingkul.com) memberi ruang untuk liputan peristiwa ini.
Firman mendahului peristiwa ini dengan menggantung dua bilah bambu, tempat mencantol tiga tanda peringatan bagi pengendara yang terpasang di kiri dan kanan ruas Jalan Perintis Kemerdekaan. Rambu yang terpasang itu sempat digunakan para penyeberang jalan bila ingin menyeberang (meski kini sudah tidak ada). Lajur jalan itu memang tak membuat warga sekitar merasa aman menyeberang, meski ketika itu Pemerintah Makassar melebarkan jalan itu sampai dua puluh meter.
Bagi warga Makassar, jalan benar-benar tak pernah menjadi ruang gerak leluasa. Para pejalan kaki dan penunggang sepeda tak pernah melenggang aman dan terus memancang cemas kalau bergerak di kota ini. Kaum ‘fakir ruang’, para warga, selalu kalah berebut tempat dengan para pengendara kendaraan yang lebih besar. Pengelola jalan (pemerintah) pun tidak menyediakan jalur khusus untuk mereka.
Ruang publik tidak melulu soal ruang gerak warga. Ruang publik juga berarti ruang yang menyediakan hal-hal alami seperti penghasil oksigen bagi penghuni kota. Karena itu, alangkah tak wajarnya kota ini ketika rumah toko (ruko) dan bangunan ganjil lainnya mematut diri di ruang dan lahan yang harusnya berisi tumbuhan, bukan beton.
Menjelang pemasangan rambu itu, Firman bersama Ika dan Bram, dua mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjinjing dupa berapi. Mereka menyeberang jalan di Sabtu malam itu dengan langkah lambat. Ketiganya mungkin menikmati amannya ruas jalan besar itu.
Warga sekitar bergabung dengan panitia ikut membantu mengatur lalu-lintas untuk momen tiga menit tersebut. Hasil perbincangan saya dengan Firman semalam menjelang peristiwa itu, memang ruang-ruang yang melompong inilah yang hendaknya warga rebut. Tak sesaat pun jalan tersebut kosong seperti itu. Para supir angkutan pun maklum; mereka menepikan kendaraan. Pengendara motor ambil tempat, ikut menonton seperti warga sekitar. Sebelum perbincangan ini, terjadi tiga pengendara menabrak penyeberang jalan di titik ini. Dan hanya dalam dua minggu!
Firman dan dua rekannya memasang celemek yang tersampir di sandaran kursi. Mereka mundur. Pelan sekali. Satu. Dua. Tiga. Empat langkah. Mereka berbalik. Sebuah godam tergeletak di belakang mereka. Mereka mengambil godam bersamaan. Eksekusi dilakukan. Godam diayun ke dupa. Hancur berkeping-keping. Apinya ke mana-mana. Lalu giliran kursi—yang dibungkus poster, stiker, dan segala pernik kampanye pilkada yang baru saja lewat—dihantam palu besar. Lumat!
Panitia dengan bantuan warga segera mengumpulkan bangkai-bangkai kursi. Mereka menyiramnya dengan minyak tanah. Tak lama kayu jadi arang. Seorang panitia segera membawa masuk beberapa ekor ikan laut ke tengah kerumunan untuk dibakar. Sekitar setengah jam kemudian, para warga, pemain, dan panitia berbaur makan bersama di Kafe Ininnawa.
Makan bersama itu bukanlah sekadar jamuan makan malam biasa. Itu masih bagian dari performance. "Spirit sebuah performance outdoor adalah melibatkan orang-orang biasa sebanyaknya dalam sebuah pertunjukan, seperti makan-makan ini," terang Firman.

Demi Ruang Sempit Bilik Suara
Segala objek maupun subjek di atas tampil sebagai fenomena bersusulan. Semua asal-usul dan hikayatnya bisa dilacak. Dimulai ketika setiap warga juga mendapat ruang lebih dalam bilik suara. Mereka memilih langsung kepala daerah. Semua itu karena gelombang wacana otonomi daerah. Orde Baru yang memusatkan perhatian pada Jawa, terpukul oleh arus sungsang ‘desentralisasi’.
Ruang-ruang aktualisasi ‘orang-orang daerah’ pun muncul. Para ‘bakal calon kepala daerah’ sibuk menawarkan program mereka lewat bentangan spanduk di tempat strategis. Spanduk-spanduk tawaran mereka untuk warga bermunculan di jalan raya dan tempat umum lain selama 19 Oktober-1 November 2007. Kebijakan pemerintahan setiap daerah mengagungkan pembangunan fisik telah menelan tingkat kenyamanan hidup warga. Lalu di mana lagi tersedia ruang bagi warganya?
Firman, bersama tim kerjanya, mengumpulkan spanduk-spanduk yang tak terpakai itu. Meski mengkhawatirkan akan kemarahan pendukung dan tim kerja ketiga pasangan calon gubernur, mereka bersikukuh pada asumsi, “Itu sudah milik kita bersama. Karena (atribut kampanye) itulah yang mereka tawarkan ke kita semua. Jadi kita berhak memilikinya,” kilah Firman ketika itu.

Perebutan Ruangbaca
Di awal 2000, sekelompok anak muda, yang mengusung ‘niat baik’, menamai diri mereka sebagai Komunitas Ininnawa. Ininnawa adalah bahasa Bugis yang berarti ‘niat baik’, ‘harapan’, atau ‘cita-cita’. Dengan kenekatan yang ajaib, mereka membangun perpustakaan dan menerbitkan buku yang merisalahkan kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.
Ininnawa percaya, menyediakan ruang dan kesempatan yang lapang bagi warga mengakses bacaan-bacaan tentang diri mereka, adalah sebuah kerja yang patut dilakukan. Setidaknya, perubahan pola pikir tentang masalah apapun selalu berhulu pada bacaan. Pelan-pelan, ruang bernama Ininnawa menjadi ruang alternatif bagi proses pertukaran pikiran dan pengalaman berbagai kalangan.
Lima tahun setelah berdirinya Ininnawa, komunitas ini menerbitkan buku “Makassar Nol Kilometer”. Buku hasil kerja kolaborasi Ininnawa, Media Kajian Sulawesi, dan Tanahindie itu mencatat tema-tema renik dan ‘biasa’ yang ada di sekitar mereka, seperti ragam makanan, ruang-ruang publik, juga peristiwa singkat berulang yang warga alami. Buku yang kemudian mendapat sambutan hangat dari banyak kalangan itu seperti memberi tanda, setidaknya di Makassar, gelombang perebutan ruangbaca terjadi. Betapa warga selama ini menjadi pemamah tema buku-buku yang begitu berjarak dari ‘diri’ mereka. Warga selalu ingin melihat diri mereka sendiri.

Ruang Maya dan Ruang Keluarga
Dua hari setelah Firman menampilkan TDAE di paruh akhir tahun 2007 itu, Panyingkul! (www.panyingkul.com) memberitakan performance ini. Panyingkul! merupakan portal berita jurnalisme warga yang meletakkan Makassar sebagai episentrum. Berseberangan dengan media konvensional yang menjadikan Jakarta sebagai titik tolak; hal yang menjadikan Makassar layaknya seorang manusia paling menor. Televisi, kotak ajaib di ruang keluarga itu, bersalin bentuk jadi tukang rias. Si tukang rias cuma punya dua modal kerja: demonstrasi dan kerusuhan. Di kedua tangan sang perias yang tak pernah tidur itu, demonstrasi dan kerusuhan berubah jadi pelembab dan pupur yang ditabur tebal ke wajah tiga juta jiwa yang menetap di kota ini.
Inti dari semua: setiap warga berkuasa atas cerita dari pengalaman bergulatnya dengan entitas lain di lingkungan tempatnya berhirup udara. Di sini, di situs ini, warga menyediakan tempat bagi diri mereka sendiri, baik menjadi subjek maupun objek.
Semangat serupa yang ditulis oleh Bertolt Brecht [1898-1956] dalam ‘Pertanyaan Seorang Buruh yang Membaca’, “Pada setiap halaman tercatat satu kemenangan. Siapakah yang memasak untuk pesta kemenangan?”
Memang, tak ada jalan, pungkas Firman, kecuali warga mengupayakan sendiri ruang bagi diri mereka. (Anwar Jimpe Rachman)


Catatan: Versi lebih singkat tulisan ini pernah dimuat di Jarakpandang, terbitan khusus 10 Tahun ruangrupa.